CARA ANAK …. BELAJAR

ABANG SUKA NONTON KARTUN DAN BACA KOMIK – SAYID DAN HANIF LEBIH MEMILIH MAIN BALOK DAN MOBIL-MOBILAN

“Saya belum tahu banyak – seperti apa cara belajar ketiga anak laki-laki kami, Abang – kelas dua SD dan Sayid masih di TK besar sementara Hanif tahun ini sudah masuk 4 tahun dia juga udah minta untuk Sekolah…. katanya sih pengen punya teman yang banyak.”

Dari keseharian mereka, saya sering mendapati ketiganya sibuk bermain bersamaan – dan  dapat dipastikan setiap kali bermain tidak jarang diakhiri dengan tangisan salah satunya, sepele penyebabnya,… rebutan mainan, saling ledek atau ada yang kebentur dinding. Semasih permainannya aman saya lebih banyak membiarkan kejadian-kejadian serupa itu, terkecuali jika nampak sudah nyerempet ke hal-hal yang membahayakan baik secara fisik maupun non fisik, tiban-tibanan dengan posisi tak seimbang, loncat dari tempat tidur – berteriak dengan ucapan-ucapan yang tidak wajar maka saya akan lakukan tindakan pencegahan.

Simaklah paparan berikut ini. Tulisan Abang rapih dan enak dibaca. Dia juga sudah bisa tulis sambung walau beberapa kali dia catatannya tidak lengkap karena menulisnya agak lambat. Kalau mencari buku bacaan, Abang akan membolak-balik gambarnya atau penggambaran suasana cerita. Dia tidak suka membaca bagian-bagian yang sudah dibaca sebelumnya. Di kelas dia lebih suka kalau guru menerangkan sesuatu dengan gambar. Bagi Abang segala sesuatu yang ia dengar, cukup sekali dan akan dia ingat selamanya, jadi ketika ummi memintanya mengulang pelajaran sering terjadi kesalahpahaman, ummi dan saya meminta mengulang pelajaran sekolahnya, tapi respon yang kami dapat sangat dingin … bagian ini sering menjadi keributan dipagi hari.

Sedangkan, buku tulis Sayid lebih banyak halaman kosong dan tulisannya tak cukup rapih. Sayid selalu bilang sudah memahami pelajaran dengan baik, jadi tidak perlu ada catatan. Di dalam kelas Sayid selalu aktif bertanya, ia juga dianggap cermat mendengarkan pelajaran. Di rumah Sayid lebih asyik bermain PS dan selalu membaca ulang komik-komik yang dibeli, sampai hafal dialognya la selalu ingat kata-kata yang didengar?nya. Jangan coba-coba berjanji dengan Sayid, pasti akan dikejarnya.
Lain lagi dengan Fani yang selalu mempraktikkan perkataan guru di kelas. Dia paling suka melakukan percobaan. Semua tugas praktik dalam buku pelajaran dengan antusias dikerjakannya sendiri. Hanif semangat bertanya hal apa saja yang ingin diketahuinya untuk bisa dilakukan. Dia paling sering membantu ummi memasak. Ummi jarang melihat Hanif duduk membaca dan menulis. 

Sebagai orangtua saya menyadari bahwa anak memiliki cara belajar berbeda untuk mengembangkan potensinya. Saya membayangkan bahwa potensi anak berada di dalam satu kotak tertutup. Untuk membuka kotak tersebut, diperlukan kunci. Kunci yang dimaksud adalah bagaimana orangtua dapat memahami cara belajar anak, sehingga tidak perlu merasa cemas kalau melihat anak tampak santai di rumah karena tidak belajar. Tiap individu memiliki kekhasan sejak lahir dan diperkaya melalui pengalaman hidup. Yang pasti semua orang belajar melalui alat inderawi, baik penglihatan, pendengaran, dan kinestetik. Psikolog pendidikan menyakini bahwa setiap orang memiliki kekuatan belajar atau modalitas belajar. Semakin kita mengenal baik modalitas belajar kita maka akan semakin mudah dan lebih percaya diri di dalam menguasai suatu keterampilan dan konsep-konsep dalam hidup. Tiap individu memiliki kekhasan sejak lahir dan diperkaya melalui pengalaman hidup.

Belajar berawal dari rumah! Anak belajar melalui apa yang ia lihat, dengar, dan sentuh. Satu dari tiga saluran inderawi -visual, auditori dan kinestetik- adalah salah satu cara untuk belajar dengan baik. Salah satu faktor yang mempengaruhi cara belajar anak adalah persepsi, yaitu bagaimana dia memperoleh makna dari lingkungan. Persepsi diawali lima indera: mendengar, melihat, mengecap, mencium,dan merasa. Didunia pendidikan, istilah modalitas mengacu khusus untuk penglihatan, pendengaran, dan kinestetik. Modalitas visual menyangkut penglihatan dan bayangan mental. Modalitas pen?dengaran merujuk pada pendengaran dan pembicaraan. Modalitas kinestetik merujuk gerakan besar dan kecil. Salah satu tanda mengenali gaya belajar seseorang melalui kalimat yang ia gunakan. Tipe visual akan bicara misalnya, ” Mama, lihat muka Marsha dong jika mau bicara sesuatu.” Bu Guru bisa melihat apa yang aku maksudkan barusan?” Sedangkan, tipe auditori mengatakan, “Mama, dengerin, aku mau cerita:’Tipe kinestetik cenderung berbicara sangat singkat, bahkan tanpa komentar apapun. Tanpa disadari gaya belajar mempengaruhi seseorang memilih tempat duduk. Tipe visual lebih memilih duduk di baris depan. Tipe auditori cenderung duduk di tengah-tengah. Tipe kinestetik, lebih memilih duduk di sebelah kanan, dekat pintu. Mereka akan segera melarikan diri jika merasa tidak perlu mendengarkan. Apa yang bisa dibantu orangtua? Dengan memahami gaya belajar anak berarti akan membuat anak lebih bahagia. Karena respons orangtua terhadap kebutuhan dirinya tepat. Bagi anak dengan gaya belajar kinestetik, maka orangtua atau guru diharap pula aktif bersikap fisik. Anak tak mau buang waktu untuk bicara dan cenderung langsung pada apa yang harus dikerjakan. Anak sangat energik dan selalu nomor satu berdiri di depan barisan. Jika mendengarkan musik, dia bergoyang sesuai irama. Jika diajak jalan-jalan, tangannya mencoba menyen?tuh apa saja. Pilih mainan roda dua, tali lompat, bola, cat air, clan dough. Anak juga suka main drama. Penegakkan disiplin tak cukup hanya verbal, karena tak berpengaruh. Perlu digunakan cara time out. Anak tipe auditori terlihat gemar bicara. Di kelas sering mengganggu anak lain dengan teriakan dan cerita-ceritanya. Anak ini pencinta musik apa saja. Pilih berbagai macam CD dan alat musik main?an. Beri kesempatan sebanyak mungkin untuk bicara, menyanyi, mendengarkan, dan berteriak. Penegakan disiplin cukup dengan kata-kata. Gunakan dialog dan tatap muka untuk menjelaskan masalah yang perlu menjadi perhatiannya.
Anak tipe visual tampak terpaku dalam mengamati sesuatu. Dia penuh rasa ingin tahu terhadap hal baru. Orangtua dapat memberikan kesempatan melalui gambar-gambar. Berbagai perlengkapan seperti papan tulis, krayon, cat air, spidol, gunting clan lem bisa disiapkan untuknyz Termasuk main-an boneka-boneka yang dapat diganti pakaiannya. Disiplin ditegakkan dengan mengacu pada orangtua. Mereka tidak membutuhkan
perkataan panjang lebar, tetapi cukup mencontoh perbuatan orangtua. Hadiah cukup dengan senyum lebar, dan ekspresi orangtua terhadap kegiatan mereka.
Peraturan bagi orang tua :
1. Sadari tipe gaya belajar anak. Tipe kinestetik, visual, auditori atau kombinasi.
2. Sadari tipe gaya belajar diri. Orangtua bisa saja memiliki gaya belajar berbeda dengan anaknya.
3. Penuhi anak dengan kesempatan agar dia berhasil dalam modalitas yang dimilikinya.
4. Disiplin dan beri hadiah sesuai dengan gaya belajarnya.
5. Selalu melihat posisi terbaik yang dimiliki anak untuk dikembangkan.
6. Bantulah anak menggunakan strategi modalitas untuk menguasai berbagai keterampilan clan konsep lainnya.–*
Karakteristik Gaya Belajar
Visual
Gaya, Belajar melalui pengamatan: mengamati peragaan
Membaca, Menyukai deskripsi, sehingga seringkali ditengah-tengah membaca berhenti untuk membayangkan apa yang dibacanya.
Mengeja, Mengenali huruf melalui rangkaian kata yang tertulis
Menulis, Hasil tulisan cenderung baik, terbaca jekas dan rapi.
Ingatan, Ingat muka lupa nama, selalu menulis apa saja.
Imajinasi, Memiliki imajinasi kuat dengan melihat detil dari gambar yang ada.
Distraktibilitas, Lebih mudah terpecah perhatiannya jika ada gambar.
Pemecahan, Menulis semua hal yang dipikirkan dalam suatu daftar.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Jalan-jalan melihat sesuatu yang dapat dilihat.
Respon untuk situasi baru, Melihat sekeliling dengan mengamati struktur.
Emosi, Mudah menangis dan marah, tampil ekspresif
Komunikasi, Tenang tak banyak bicara panjang, tak sabaran mendengar, lebih banyak mengamati.
Penampilan, Rapi, paduan warna senada, dan suka urutan.
Respon terhadap seni, Apresiasi terhadap seni apa saja yang dilihatnya secara mendalam dengan detil dan komponen, daripada karya secara keseluruhan.

Auditori
Gaya, belajar melalui instruksi dari orang lain
Membaca, Menikmati percakapan dan tidak memperdulikan ilustrasi yang ada
Mengeja, Menggunakan pendekatan melalui bunyi kata
Menulis, Hasil tulisan cenderung tipis, seadanya
Ingatan, ingat nama lupa muka,ingatan melaui pengulangan.
Imajinasi, Tak mengutamakan detil, lebih berpikir mengandalkan pendengaran.
Distraktibilitas, Mudah terpecah perhatiannya dengan suara.
Pemecahan, Pemecahan masalah melalui lisan.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Ngobrol atau bicara sendiri.
Respon untuk situasi baru, Bicara tentang pro dan kontra.
Emosi, Berteriak kalau bahagia, mudah meledak tapi cepat reda, emosi tergambar jelas melalui perubahan besarnya nada suara, dan tinggi rendahnya nada.
Komunikasi, Senang mendengar dan cenderung repetitif dalam menjelaskan.
Penampilan, Tak memperhatikan harmonisasi paduan warna dalam penampilan.
Respon terhadap seni, Lebih memilih musik. Kurang tertarik seni visual, namun siap berdiskusi sebagai karya secara keseluruhan,tidak berbicara secara detil dan komponen yang dilihatnya.

Kinestetik
Gaya, Belajar melalui melakukan sesuatu secara langsung
Membaca, Lebih memiliki bacaan yang sejak awal sudah menunjukkan adanya aksi.
Mengeja, Sulit mengeja sehingga cenderung menulis kata untuk memastikannya
Menulis, Hasil tulisan “nembus” dan ada tekanan kuat pada alat tulis sehingga menjadi sangat jelas terbaca.
Ingatan, Lebih ingat apa yang sudah dilakukan, daripada apa yang baru saja dilihat atau dikatakan.
Imajinasi, Imajinasi tak terlalu penting, lebih mengutamakan tindakan/kegiatan.
Distraktibilitas, Perhatian terpecah melalui pendengaran
Pemecahan, Pemecahan masalah melalui kegiatan fisik dan aktivitas.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Mencari kegiatan fisik bergerak.
Respon untuk situasi baru, Mencoba segala sesuatu dengan meraba, merasakan dan memanipulasi.
Emosi, Melompat-lompat kalau gembira, memeluk, menepuk, dan gerakan tubuh keseluruhan sebagai luapan emosi.
Komunikasi, Menggunakan gerakan kalau bicara, kurang mampu mendengar dengan baik.
Penampilan, Rapi, namun cepat berantakan karena aktivitas yang dilakukan
Respon terhadap seni, Respons terhadap musik melalui gerakan. Lebih memiliki patung, melukis yang melibatkan aktivitas gerakan.
teks ini diambil dari tulisan DR Reni Akbor Howodi Psi. Fok. Psikologi U1.

Sambungan 1 .. PANEN LADA PERTAMA >>>>

IBU KAMI BERJIWA PETANI TULEN

….BAPAK … NELAYAN SEJATI

Wah…. sorry bangat … tulisan ini agak lama tidak tersentuh … maklum ada  kesibukan-kesibukan yang membuatnya (tulisan ini) sdikit terbengkalai …. entah seminggu atau bahkan sudah lebih dari sepuluh hari .. dari tulisan terakhir, baru sempat lagi melanjutkan tulisan ini.

Secuil gambaran kondisi kehidupan masyarakat dikampung kami sempat penulis sampaikan, sebenarnya gambaran tersebut tidak mewakili keseluruhan Kehidupan Sosial Masyarakat Pulau Belitong, gambaran tersebut semata berdasarkan apa yang terlihat dan teralami sendiri oleh penulis. Selain musim Barat (angin laut yang menimbulkan gelombang besar) sehingga nelayan tidak banyak yang berani melaut… sekalipun melaut mereka hanya melaut dipinggiran saja, tidak ada yang berani melaut sampai keluar teluk disekitar perkampungan. Jika biasanya mereka melaut cukup jauh meninggalkan pulau — tentu hasilnya pun lumayan juga … ikan-ikan yang diambil biasanya ikan-ikan tertentu dengan ukuran-ukuran yang istimewa sementara dimusim angin barat … ikan-ikan kecil yang biasanya tidak disentuh, sekarang …. mereka bisa jadi rebutan, maksudnya nelayan-nelayan dikampung kami tidak akan membiarkan  ikan-ikan kecil sekalipun, mereka akan menangkapnya bukan semata untuk kebutuhan makan sehari-hari bahkan kegiatan itu menjadi matapencaharian, terutam bagi merekayang memang tidak memiliki alternatif untuk menyokong kehidupan rumah tangganya.

Mancing bejaoran, mukat, neritip, ngenderik, mancing bebulus adalah jenis-jenis aktifitas nelayan kampung kami dimusim angin barat. Waktu berumur antara sembilan dan sepuluh dulu, berama sahabat-sahabat; Sukanda (alm) — saya sering sekali memafaatkan moment musim angin barat ini untuk bersuka ria .. kami sering menikmati kencangnya angin dan besarnya ombak sambil memukat ketam (kepiting rajungan bahasa kerennya) terutama diwaktu liburan sekolah atau kadang selepas pulang sekolah sampai menjelang magrib. Sungguh kegiatan serupa ini akan senantiasa jadi kenangan terindah, terutama dari setiap kali mukat ketam ini kami tidak pernah mendapat hasil memuaskan. paling-paling lima sampai sepuluh ekor … itupun kalo hokinya sedang in… tapi saat hoki kami sedang resek … dapat seekor saja rasanya sudah luar biasa. hanya saja kesenangan yang kami dapat tidak terukur dari berapa banyak hasil memukat ketam yang kami bawa pulang. Berenang sambil berteriak-teriak, membelah ombak yang tingginya bisa menenggelamkan menjadi kesenangan yang tidak bisa terganti oleh apapun.

Sebagai anak-anak yang tinggal diperkampungan nelayan … bermain dengan ombak bukan soal yang aneh .. bagi sebagian kegiatan serupa ini adalah kehidupan mereka …. berbeda dengan kami-kami … maklum orang tua kami baik Ibu (Umak) maupun Bapak nampaknya … mereka sangat tidak menginginkan kami menjadi pelanjut profesi mereka, maka mereka sekolahkan kami …. walau tidak pernah mereka  cetus secara terbuka … rasanya asumsi tadi tidak terlalu meleset,…. saya meresakan sendiri, tidak banyak  aktifitas kenelayanan yang biasa dilakukan Bapak kami yang dia tularkan agar kami kelak mampu meneruskan kemampuan-kemampuan khusus yang mereka miliki. Sungguh, saya merasa sangat awam sekali dengan profesi Bapak kami, sekali-sekali saya disertakan melaut, tapi sampai ditengah lautan saya tidak pernah bisa melawan rasa kantuk yang mendera kelopak mata, belum sempat menjulurkan umpan pada tali pancing — mata dan tubuh sudah meminta sesuatu … tidur adalah jawabannya, ikut Bapak melaut = pindah tempat tidur. Apalagi diatas perahu suasananya begitu menakjubkan, perahu diayun oleh ombak sementara taburan ribuan bintang menjadi atapnya … indah bukan?? Sungguh memanjakan… tidur nyenyak…pulas … baru dibangunkan pagi-pagi ketika Bapak sudah siap-siap pulang.

Sebagai seorang anak yang tinggal diperkampungan nelayan …. rasanya tidak pas kalau tidak memiliki satu kenangan indah pada masa kanak-kanak selayaknya yang dimiliki anak-anak lain di kampung kami. Mukat ketam yang kami lakukan seusai sekolah … walau kadang tanpa izin orang tua … merupakan petualangan kecil kami sebagai anak-anak nelayan. Seperti dikemukakan tadi, bukan hasil yang jadi tujuan kami, kesenangan bermain ombak nampaknya jadi naluri mengalir dalam darah kami sebagai anak nelayan.

Mancing bejaoran adalah kesenangan lain, dan Zuno (Suyono) jagonya. Teman yang satu ini sangat handal …. kalau saya mancing barengan dia …. bisa dipastikan dia dapat seambong (sebutan untuk wadah penampung hasil pancingan) dan saya dapat sebuntut (maksudnya buntut ambong itu tidak pernah hilang) masalahnya saya tidak bisa menyaingi perolehan Zuno. Mancing bejaoran biasanya kami lakukan kalau air laut surut jauh meninggalkan landasan pantai, biasanya bisa sampai dua sampai tiga ratus meter dari bibir pantai sampai ketebing karang laut yang menjadi pemecah ombak sebelum menyentuh pantai. Jika tidak mancing bejaoran kami bersama sejumlah keluarga nelayan lainnya, mengumpulkan kimak, kimpang, dare malayang atau nyarik pensian (sejenis moluska dengan bentuk menyerupai tiram mutiara)… mengasyikkan.  

STRESS – JANGAN SAMPAI DECH!!

CARA MENGHADAPI STRESS/KETEGANGAN

Pertama-tama, anda harus belajar mengenali stres:

Gejala-gejala stres mencakup mental, sosial dan fisik. Hal-hal ini meliputi kelelahan, kehilangan atau meningkatnya napsu makan, sakit kepala, sering menangis, sulit tidur dan tidur berlebihan. Melepaskan diri dari alkohol, narkoba, atau perilaku kompulsif lainnya sering merupakan indikasi-indikasi dari gelaja stres. Perasaan was-was, frustrasi, atau kelesuan dapat muncul bersamaan dengan stres.

Jika anda merasa stres mengaruhi pelajaran anda,
langkah pertama adalah mencari bantuan melalui pusat koseling di sekolah anda.

Manajemen stres adalah kemampuan untuk mengendalikan diri ketika situasi, orang-orang, dan kejadian-kejadian yang ada memeberi tuntutan yang berlebihan. Apa yang dapat anda lakukan untuk mengatur stres anda? Strategi-strategi apa yang ada?

Perhatikan lingkunga sekitar anda
Lihatlah mungkin ada sesuatu yang benar-benar dapat anda ubah atau kendalikan dalam situasi tersebut. Belajarlah cara terbaik untuk merelaksasikan diri anda
Meditasi dan latihan pernafasan telah terbukti efektif dalam mengendalikan stress. Berlatihlah untuk menjernihkan pikiran anda dari pikiran-pikiran yang menggangu.
Jauhkan diri anda dari situasi-situasi yang menekan
Beri diri anda kesempatan untuk beristirahat biarpun hanya untuk beberapa saat setiap hari. Tentukan tujuan yang realistis bagi diri anda sendiri
Dengan mengurangi jumlah kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidup anda, anda akan dapat mengurangi beban yang berlebihan.
Jangan mempermasalahkan hal-hal yang sepele
Cobalah untuk memprioritaskan beberpa hal yang benar-benar penting dan biarkan yang lainnya mengikuti. Jangan membebani diri anda secara berlebihan
dengan mengeluh mengenai seluruh beban kerja anda. Tangani setiap tugas sebagaimana mestinya, atau tangani secara selektif dengan memperhatikan beberapa prioritas.
Secara selektif ubahlah cara anda bereaksi
Tapi jangan terlalu banyak sekaligus. Fokuskan pada satu masalah dan kendalikan reaksi anda terhadap hal ini. Ubahlah cara pandang anda
Belajarlah untuk mengenali stress. Tingkatkan reaksi tubuh anda dan buatlah pengaturan diri terhadap stress.
Hindari reaksi yang berlebihan;
Mengapa harus membenci jika sedikit tidak suka sudah cukup? Mengapa harus merasa bingung jika cukup dengan hanya merasa gugup? Mengapa harus mengamuk jika marah saja sudah cukup? Mengapa harus depresi ketika cukup dengan merasa sedih? Lakukan sesuatu untuk orang lain
Untuk melepaskan pikiran dari masalah anda sendiri.
Tidur secukupnya
Kurang istirahat hanya akan memperburuk stress. Hindari stress
Dengan kegiatan-kegiatan fisik, misalnya jogging, tennis ataupun berkebun.
Hindari pengobatan diri sendiri atau menghindar
Alkohol dan obat-obatan dapat menyembunyikan stres. Namun tidak dapat membantu memecahkan masalah. Tingkatkan ketahanan diri anda
Yang harus digarisbawahi dari manajemen stress adalah ?Saya membuat diri saya sendiri sedih?.
Cobalah untuk ?memanfaatkan? stress
Jika anda tidak dapat melawan apa yang mengganggu anda, dan anda tidak dapat menghindar darinya, berjalanlah seiring dengannya dan cobalah untuk memanfaatkannya secara produktif.

Cobalah untuk menjadi seseorang yang positif
Tanamkan pada diri anda bahwa anda dapat mengatasi segala sesuatu dengan baik daripada hanya memikirkan betapa buruknya segala sesuatu yang terjadi. ?Stress sebenarnya dapat membantu ingatan, terutama pada ingatan jangka pendek dan tidak terlalu kompleks. Stress dapat menyebabkan peningkatan glukosa yang menuju otak, yang memberikan energi lebih pada neuron. Hal ini, sebaliknya, meningkatkan pembentukan dan pengembalian ingatan. Di sisi lain, jika stress terjadi secara terus-menerus, dapat menghambat pengiriman glukosa dan mengganggu ingatan.? All Stress Up, St. Paul Pioneer Press Dispatch, hal 8B, Senin, 30 November 1998.

Yang terpenting, jika stress menempatkan anda dalam keadaan yang tidak teratasi atau mengganggu kegiatan sekolah anda, kehidupan sosial ataupun kehidupan kerja, carilah bantuan ahli di pusat konseling sekolah anda.

Menyiapkan diri dalam ujian (Inggris)

Kemampuan anda menghadapi stres: “Bagaimana cara menghadapi stress?” oleh Body-Mind QueenDom

——————————————————————————–

GIMANA CARA BELAJAR YANG NYAMAN?

Langkah-langkah belajar yang nyaman adalah dengan mengetahui

  • diri sendiri
  • kemampuan belajar anda
  • proces yang berhasil anda gunakan, dan dibutuhkan
  • minat, dan pengetahuan atas mata pelajaran anda inginkan

Anda mungkin belajar fisika dengan mudah tetapi tidak bisa belajar tenis, atau sebaliknya. Belajar apapun, ada proses-proses untuk mencapai tahap-tahap tertentu.

Empat langkah untuk belajar.
Mulai dengan cetak halaman ini dan jawab pertanyan-pertanyaannya. Lalu rencanakan strategi anda dari jawaban-jawabanmu, dan dengan “Pedoman Belajar” yang lain.

Mulai dengan masa lalu 

 

Apakah pengalaman anda tentang cara belajar? Apakah andaWhat was your experience about how you learn? Did you

  • senang membaca? memecahkan masalah? menghafalkan? bercerita? menterjemah? berpidato?
  • mengetahui cara menringkas?
  • tanya dirimu sendiri tentang apa yang kamu pelajari?
  • meninjau kembali?
  • punya akses ke informasi dari banyak sumber?
  • menyukai ketenangan atau kelompok belajar?
  • memerlukan beberapa waktu belajar singkat atau satu yang panjang?

Apa kebiasaan belajar anda? Bagaimana tersusunnya? Yang mana terbaik? terburuk?

Bagaimana anda berkomunikasi dengan apa yang anda ketahui belajar paling baik? Melalui ujian tertulis, naskah, atau wawancara?

Teruskanke masa sekarang  Berminatkah anda?
Berapa banyak waktu saya ingin gunakan untuk belajar?
Apa yang bersaing dengan perhatian saya?Apakah keadaannya benar untuk meraih sukses?
Apa yang bisa saya kontrol, dan apa yang di luar kontrol saya?
Bisakah saya merubah kondisi ini menjadi sukses?

Apa yang mempengaruhi pembaktian anda terhadap pelajaran ini?

Apakah saya punya rencana? Apakah rencanaku mempertimbangkan pengalaman dan gaya belajar anda?

Pertimbangkan
proses,
persoalan utama
Apa judulnya?
Apa kunci kata yang menyolok?
Apakah saya mengerti?Apakah yang telah saya ketahui?
Apakah saya mengetahui pelajaran sejenis lainnya?

Sumber-sumber dan informasi yang mana bisa membantu saya?
Apakah saya mengandalkan satu sumber saja (contoh, buku)?
Apakah saya perlu mencari sumber-sumber yang lain?

Sewaktu saya belajar, apakah saya tanya diri sendiri jika saya mengerti?
Sebaiknya saya mempercepat atau memperlambat?
Jika saya tidak mengerti, apakah saya tanya kenapa?

Apakah saya berhenti dan meringkas?
Apakah saya berhenti dan bertanya jika ini logis?
Apakah saya berhenti dan mengevaluasi (setuju/tidak setuju)?

Apakah saya membutuhkan waktu untuk berpikir dan kembali lagi?
Apakah saya perlu mendiskusi dengan “pelajar-pelajar” lain untuk proces informasin lebih lanjut?
Apakah saya perlu mencari “para ahli”, guruku atau pustakawan atau ahliawan?

Buat
review
Apakah kerjaan saya benar?
Apakah bisa saya kerjakan lebih baik?
Apakah rencana saya serupa dengan “diri sendiri”?Apakah saya memilih kondisi yang benar?
Apakah saya meneruskannya; apakah saya disipline pada diri sendiri?

Apakah anda sukses?
Apakah anda merayakan kesuksesan anda?

Halaman ini digambarkan dari “metacognition”, istilah yang diciptakan oleh Flavell (1976), dan

MENGATUR JADWAL BELAJAR

– tip ini ditujukan bagi siswa/mahasiswa dalam mengatur jadwal belajar secara efektif –

Pengaturan Waktu adalah membuat dan melakukan jadwal belajar agar dapat mengatur dan memprioritaskan belajarmu dalam konteks membagi waktu dengan aktivitas, keluarga, dan lain-lain.

Pedoman:

Perhatikan waktumu.

Refleksikan bagaimana kamu menghabiskan waktumu.

Sadarilah kapan kamu menghabiskan waktumu dengan sia-sia.

Ketahuilah kapan kamu produktif.

Dengan mengetahui bagaimana kamu menghabiskan waktu dapat membantu untuk:

Membuat daftar “Kerjaan”. Tulislah hal-hal yang harus kamu kerjakan, kemudian putuskan apa yang dikerjakan sekarang, apa yang dikerjakan nanti, apa yang dikerjakan orang lain, dan apa yang bisa ditunda dulu pengerjaannya.

Membuat jadwal harian/mingguan. Catat janji temu, kelas dan pertemuan pada buku/tabel kronologis. Selalu mengetahui jadwal selama sehari, dan selalu pergi tidur dengan mengetahui kamu sudah siap untuk menyambut besok.

Merencanakan jadwal yang lebih panjang. Gunakan jadwal bulanan sehingga kamu selalu bisa merencanakan kegiatanmu lebih dulu. Jadwal ini juga bisa mengingatkanmu untuk membuat waktu luangmu dengan lebih nyaman.

Rencana Jadwal Belajar Efektif:

Beri waktu yang cukup untuk tidur, makan dan kegiatan hiburan.
Prioritaskan tugas-tugas.
Luangkan waktu untuk diskusi atau mengulang bahan sebelum kelas.
Atur waktu untuk mengulang langsung bahan pelajaran setelah kelas. Ingatlah bahwa kemungkinan terbesar untuk lupa terjadi dalam waktu 24 jam tanpa review.
Jadwalkan waktu 50 menit untuk setiap sesi belajar.
Pilih tempat yang nyaman (tidak mengganggu konsentrasi) untuk belajar.
Rencanakan juga “deadline”.
Jadwalkan waktu belajarmu sebanyak mungkin pada pagi/siang/sore hari.
Jadwalkan review bahan pelajaran mingguan.
Hati-hati, jangan sampai diperbudak oleh jadwalmu sendiri!

HANIF KE NIN … ALEEYA KESEPIAN

HANIF DIBAWA OPUNG … ALEEYA

Dua hari lalu, Rabu, 7 Mei …. Kami agak sibuk … pagi-pagi gak rush…. umi siap-siap untuk ngajar abang dan A’a siap-siap ke sekolah, A’a masuk jam 8, abang agak sedikit siang jam 9.30, Umi ada kelas jam 9.

Wah … rabu adalah hari paling ramai … pagi hari yang gaduh, … bala bantuan datang tepat sekitar jam 7.30, nin dan opung datang suasana agak terkendali, anak-anak sudah dipersiapkan – mereka sudah makan pagi tinggal mandi dan mengenakan seragam. Hanif putra ketiga kami … belum sekolah umur 3 menjelang 4 tahun, biasanya dia punya kesibukan sendiri, kalau nggak nonton dora atau siapa sih nama si petualang tapi versi laki-lakinya … O ya Diego … biasanya pagi-pagi bangat dia sudah nonton. Tontonan tersebut sengaja kami berikan untuk melatih kemampuan berbahasanya, nampaknya cukup efektif juga, ada banyak kosa kata yang dia rekam dan diulang-ulang persis tontonannya. Nah… kalau nggak nonton kadang dia cari perhatian … minta ini itu … cuci tangan ke kamar mandi, pipis dan minta dipakaikan celananya kembali hanya oleh umi tidak oleh abang, a’a … mereka kadang cukup kooperatif mau membantu uminya dalam beberapa hal, walau masih harus menggunakan pengeras suara agar permintaan bantuan itu sedikit mendapat perhatian.

Abi dan Aleeya, kami masih dikamar menghabiskan gelap tersisa, gorden jendela kamar belum dibuka … jadi suasana terasa seperti masih malam saja, padahal kalau dibuka … sinar mentari bisa masuk langsung menembus kaca cendela kamar tanpa sungkan.

Suasana rumah seperti ini, seolah ritual – dan kejadian-kejadian  serupa ini akan menjadi kenangan bagi kami bersama dibeberapa tahun ke depan. Waktu itu tak lama lagi.

Biasanya – ketika Abang dan A’a berangkat ke sekolah mereka – yang dirumah tersisa Aleeya dan Hanif saja. Suasana agak berbeda, agak sepi – tanpa ada teriakan-teriakan panjang abi atau umi sekedar mengingatkan anak-anak tentang apa yang menjadi tanggungjawab mereka, memberitahu, mengajarkan, mengingatkan dan mengingatkan kembali adalah kewajiban abi- umi.

Tepat pada rabu itu, ketika pulang malamnya umi laporan, Hanif dibawa Opung, pantesan tempat tidur anak-anak agak lowong – biasanya ditempat tidur anak-anak mereka (Abang, A’a dan Hanif) numpuk kaki dan kepala kadang saling beradu, pemandangan luar biasa.

Esok paginya, kamis, suasana agak berbeda … terutama setelah Abang dan A’a ke sekolah, Aleeya jadi kesepian … tidak ada Hanif yang main bareng … sedikit sepi … Hanif pulang ya … umi, abi, abang, a’a dan aleeya udah kangen. ditunggu ya dirumah.  

sambungan …. PANEN LADA..

RABU, 7 MEI 2008

Singkong, ubi, talas  dan beberapa jenis palawija seperti kacang-kacangan, termasuk lada menjadi hasil utama perkebunan di kampung kami. Hasil perkebunan seperti inilah yang menghidupi kebanyakan masyarakat nelayan kampung kami selama musim pancaroba. Kehidupan berkebun kami jalani selama beberapa bulan biasanya antara november sampai pertengahan maret – perkampungan relatif sepi, karena masyarakat banyak beraktifitas diladang atau dikebun mereka – kakek kami sesekali melaut, sekedar mencari lauk pauk untuk menemani makan singkong rebus – setelah beras tidak terbeli lagi – kejadian seperti ini rutin setiap tahun, pemandangan serupa banyak ditemui diwilayah-wilayah perkampungan nelayan.

Kalau musim barat ini berkepanjangan, amunisi-amunisi terakhir keluar, ikan asin sisa ikan yang tidak terjual pada musim melaut akhirnya harus keluar juga, pucuk daun singkong, sambal terasi menjadi menu utama. Meski demikian makan dalam kondisi seperti itu biasanya terasa nikmat luar biasa. Ikan pedak dimasak berampai, campuran berbagai jenis sayuran yang dibumbu seperti memasak gangan dengan komposisi kunyit tidak sebanyak bumbu gangan sehingga kuahnya nampak agak bening, disajikan dalam keadaan masih hangat untuk menimpali rebus menggale (singkong) atau aruk gelagau (potongan singkong yang telh direndam selama dua atau tiga hari, setelah ditiriskan airnya sebagian bisa diambil untuk dimasak (gelagau) dan sebagian dijemur menjadi rap menggale (tapioka)). Musim barat di desa kami biasanya ditandai dengan turun hujan sepanjang hari selama berbulan-bulan, anginnya bertiup lebih kencang disertai petir yang menyambar-nyambar. Sebelum turun hujan, awan gelap nampak menggelayuti langit agak sulit untuk melihat matahari bersinar … ya, itu … pertanda musim barat akan berlangsung lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak jarang kami menghadapi kondisi-kondisi mencekam karena hujan deras disertai hembusan angin yang tak ubah mesin kocokan besar, berputar kesana-kemari menerbangkan daun-daun pohon. Tak akan ada orang keluar rumah pada kejadian-kejadian menghebohkan seperti itu. Disisi lain, hutan kami mulai menghijau kembali … seperti permainan sulap, beberapa bulan sebelumnya panas panjang membuat dedaunan menguning dan rontok, rumput-rumput dan ilalang dipadang-padang bekas perkebunan sementara nampak meranggas atau bahkan layu dan mati, sehingga memudahkan terjadinya kebakaran hutan, dasar hutan menjadi lembab, sisa dedaunan yang berguguran menjadi nutrisi bagi area yang sebelumnya kering kerontang. Tanah yang bernutrisi tinggi mengundang berbagai mahluk untuk memanfaatkannya. Rayap-rayap segera mengumpulkan tanah liat basah untuk memperkokoh sarang-sarang mereka yang sebelumnya sempat rapuh….begitupun mahluk-mahluk mungil lainnya, mereka saling berbagi kemamfaatan. Burung-burungpun tak ketinggalan meramaikan seisi hutan dengan kicauan mereka yang khas. Burung berebak biasanya paling aktif – mereka berloncatan kesana kemari, sulit dipahami apa sebenarnya yang membuat mereka keranjingan. Beberapa kejadian .. yang tertangkap penglihatan, kicauan itu digunakan sebagai pertanda bahaya yang disampaikannya kepada teman-teman terutama karena kehadiran ular-ular berwarna hijau dibeberapa ranting pohon. Atau tampak ada kesibukan luar biasa – mereka (burung berebak ini berkumpul dengan kawanannya dengan jumlah puluhan) nampaknya mereka sedang menikmati perhelatan dipesta perkawinan salah dua ekor temannya. Sudahlah kita tinggalkan saja berebak-berebak itu – kita akan lihat kembali ke dasar hutan, dibawah rindang pepohonan tidak jarang ditemui barisan panjang dan memutih kulat pelandok. Pemandangan ini sangat menarik terutama bagi pencari kulat (sejenis jamur), termasuk nenek kami, beliau cukup mahir berburu kulat pelandok ini, hasilnya, tentu saja menjadi salah satu menu andalan di musim barat. Cukup direbus ditambah beberapa irisan bawang merah dan masukkan beberapa cabe rawit merah, berkuah … nikmat … nikmat sekali … sungguh masakan yang menyehatkan. Sungguh Allah swt maha adil … tidak dibiarkan-Nya kami kelaparan meski beras tidak terbeli … tetapi ada banyak sekali makanan pengganti dengan kualitas yang setara dan bisa jadi lebih baik sekalipun kakek atau orang tua kami tidak melaut sebagaimana profesi mereka sebagai nelayan.

Tanaman-tanaman pohon buahpun seringnya berbuah lebat di musim barat ini. Seperti Durian, jambu, rambutan, manggis, cempedak, buah langsat (duku), sengaja Allah swt perbuahkan mereka diwaktu ini. Maaf, tidak bisa beli beras, yang saya maksud disini tidak semata karena kami kekurangan dalam hal keuangan, uang bisa jadi ada – karena ada aktifitas jual beli untuk menghasilkan uang walau tidak seberapa, seperti jual hasil panen singkong, pisang, durian, rambutan … semua itu bisa menghasilkan uang, Nah yang jadi persoalannya … pulau kami “Belitong” tidak mampu menghidupkan persawahan sehingga bisa menghasilkan beras, paling tidak untuk memenuhi konsumsi sekian puluh ribu penduduknya, Kapal-kapal barang yang biasanya berlayar membawa barang-barang kebutuhan pulau kami tidak ada yang berani untuk menentang ombak dengan ketinggian di atas tiga meter, kecuali nekad dan sengaja cari mati. Otomatis stok beras di gudang dolog menipis, distribusinya dapat dipastikan tidak untuk kekampung-kampung yang diutamakan tetapi mereka memilih mengamankan peru-perut mereka sendiri – orang-orang yang berpenghidupan agak di atas rata-rata, orang-orang kota ini jauh lebih aman, karena mereka dekat aksesnya ke gudang beras tersebut (dolog=depot logistik).

Sekali lagi keadilan yang Allah swt tunjukkan kepada kami menjadi bukti agar kita terutama keluargaku senantiasanya menjadi orang-orangg yang pandai bersyukur – tidak kufur terhadap banyaknya nikmat yang telah Dia beri selama ini.  

 

PANEN LADA PERTAMA MEMBIAYAI KULIAHKU

1.KELUARGAKU-2.KELUARGAKU-3.KELUARGAKU

1. KELUARGAKU

Keluarga kami,…aku tidak paham benar dari mana silsilah keluarga ini bermula, tapi setidaknya aku masih sempat kenal dengan kakek dan nenek buyutku sebelum mereka meninggal di usiaku yang relatif sudah dewasa. Waktu itu aku sedah dikelas 1 SMA ketika nenek buyutku meninggal. Tak banyak kesedihan yang aku rasakan — walaupun sehari-hari aku cukup dekat dengan beliau tapi tidak terlalu banyak yang kupahami siapa dan bagaimana buyut-buyutku itu sepenuhnya.

Dalam struktur sosial kemasyarakatan – keluarga kami tidak tergolong kelompok berada dipandang dari sisi materi, tidak juga dipandang sebagai kelompok keluarga yang patut mendapat penghormatan lebih, selayaknya penghormatan biasa ditujukan kepada kelompok alim ulama (para lebai) dan para guru. Kedua kelompok ini memang pantas mendapatkannya karena mereka banyak memberikan panutan sebagai petunjuk nyata bagi kemaslahatan kehidupan bermasyarakat di desa kami. Kelas terakhir yang banyak mendapat penghormatan adalah para petinggi adat dan birokrat disana. Pemangku adat biasanya disimbolkan pada eksistensi seorang dukun kampung dan seorang dukun beranak (nek pengguling) – mereka disegani – atau dihormati – mungkin juga ditakuti – karena ada embel-embel sebutan dukun pada profesi yang mereka tanggungjawabi.

Sebenarnya, seorang dukun kampung tak lebih dari seseorang yang karena garis keturunannya atau bisa jadi karena kedigjayaan yang dimilikinya maka dia dianggap pantas dijadikan sebagai seorang yang dituakan terutama pada persoalan-persoalan adat yang terhubung pada masalah-masalah mistis dan magis. Menghadapi tipe persoalan ini…beliau adalah bemfer (tameng/pelindung) dalam persepsi adat orang-orang didesa kami. Beliau dituakan — karena umur rata-rata para dukun ini biasanya sudah sangat uzur dan tahtanya tak tergantikan sepanjang hayat. Artinya akan ada dukun kampung yang baru setelah dipastikan dukun kampung lama sudah meninggal. Atau mungkin digantikan apabila yang bersangkutan mengalami persoalan-persoalan berat dan bersifat pribadi sehingga secara sadar yang bersangkutan menyatakan pengunduran dirinya dan meminta agar digantikan oleh orang lain yang beliau tunjuk dan bisa juga sebagai hasil sebuah musyawarah dari sekelompok orang-orang berilmu!! yang ada didesa kami.

Satu lagi, sebutan dukun melekat pada seorang yang dia memproklamirkan dirinya – proklamasi ini kemudian diamini oleh warga dan petinggi desa, proklamasi sebagai nek pengguling (dukun beranak) — tidak banyak orang yang menginginkan profesi ini. Sebagian besar merasa takut, tentu dengan berbagai alasan seperti; belum ada panggilan jiwa (seperti halnya statement orang yang akan berangkat ke haji), mereka merasa siap untuk menekuni profesi ini seketika ada panggilan dari dalam dirinya. Alasan kurangnya pengetahuan tidak menjadi kategori alasan mengapa tidak banyak orang atau tidak sembarang orang mau mengambil resiko berprofesi sebagai nek pengguling ini.

Kecenderungan yang memegang tampuk kekuasaan ini — juga berasal dari kelompok usia orang-orang yang sudah uzur (nenek-nenek).

Nampaknya, persoalan privasi – bisa menjadi secuil alasan kurang diminatinya profesi satu ini. Bayangkan, kampung atau desa kami waktu itu saja populasinya sudah mendekati angka 2000-an, untuk ukuran desa terpencil jumlah itu tidak sedikit, dengar-dengar sekarang ini populasinya sudah hampir 6000-an, artinya tingkat pertumbuhan penduduk didesa kami lumayan pesat. Jika dalam sebulan ada satu pernikahan, setahun terdapat dua belas pasangan rumah tangga baru. Setahun kemudian, setidaknya (70 sampai dengan 80)% dari jumlah pasangan ini akan melahirkan anak-anak mereka.

Kira-kira siapa orangnya yang akan rela dan dengan penuh suka cita mengambil resiko untuk memproklamirkan dirinya sebagai nek pengguling tadi, sudah harus terbayangkan…pekerjaan semacam apa yang akan dihadapinya….bukan sekedar sebagai penyaksi atas kelahiran bayi suci dari setiap pasangan baru….. maaf saya lupa memperhitungkan… kelahiran yang mungkin terjadi dalam setahun berasal dari pasangan keluarga yang tidak baru lagi.

Di kampung kami sedikit sekali jumlah keluarga; .. jarang …jarang sekali … ada; sebuah bentukan rumah tangga yang anak-anak dari hasil pernikannya hanya satu atau dua. Setiap rumah rata-rata memiliki lima sampai enam orang anak, ini lazim, biasa, umum, lumrah…. bukan karena program pemerintah “KB” tidak sampai ke sana, juga bukan karena ibu-ibu atau bapak-bapaknya tidak pernah mendapatkan penyuluhan bagaimana keluarga sejahtera, semua itu sudah mereka terima. Bahkan setahun bisa jadi dilakukan beberapa kali penyuluhan, ada tim dari desa, kecamatan, kabupaten, provinsi dan bahkan sampai pada skala nasional pernah datang dan ada yang secara rutin memberikan penyuluhannya. Dan hasilnya,… dari tahun ke tahun tidak terlalu jauh perbedaannya. Bukan gagal, tapi belum berhasil.

Nah jika dihitung-hitung, misal dari penduduk yang tadi jumlahnya 2000-an itu, usia produktifnya berjumlah 500 saja (laki-laki + perempuan) , dan yang berkeluarga separohnya dikurangi 10% (ini sih rumus kira-kira, kalau ada minat untuk menghitungnya secara eksak nanti saya rekomendasikan untuk datang ke sana sehingga kita dapat angka realnya).

Tadi, separoh dari 500 adalah 250, kemudian jumlah ini dikurangi 25 (10% tadi itu), kita dapatkan angka 225 orang. Karena dalam bentuk pasangan , angka 225 ini kan ganjil jadi kalau kita pasangkan jumlahnya menjadi tidfak pas, untuk menggenapkannya bolehlah kita tambahin 1 sehingga jumlahnya menjadi 226 nah angka ini jadi enak kalau dibagi dua untuk menunjukkan banyaknya jumlah pasangan (226 : 2 = 113); wah angka kira-kiranya lumayan fantastis juga ya. Bagaimana tidak, coba perhatikan andai 10% dari jumlah pasangan produktif ini ternyata hamil bersamaan dalam waktu setahun, ada tambahan kelahiran sebanyak 11,3 kelahiran baru, jadi jumlah totalnya; perkiraan maksimal: 8 +11,3 =19,3 kelahiran setahun, sedangkan minimalnya:7+11,3 =18,3 kelahiran yang harus dihadapinya (nek pengguling). Nampaknya cukup masuk akal, mengapa hanya orang-orang yang mendapatkan panggilan saja yang siap untuk menceburkan dirinya dalam profesi mulia ini …. membantu kelahiran …. turut jadi penyaksi antara perjuangan untuk bertahan hidup dan kesiapan untuk dijemput ajalnya.

Jangan ditanya berapa bayaran yang mereka terima, ucapan terima kasih… adalah upah yang paling lazim beliau peroleh. Tidak ada tarif, tidak ada biaya ini itu, terkecuali setelah datang bidan desa. Nek pengguling bukan pekerja profesi yang setelah mereka menyelesaikan tugas-tugasnya – akan bersegera mengeluarkan kuitansi, nota atau apalah namanya yang berisi catatan jumlah pembiayaan yang harus dikeluarkan pasangan yang berbahagia karena kelahiran bayi mereka. Tidak sampai disana saja, beliaupun turut merawat ibu dan bayi ini sampai kondisinya stabil dan aman. Nek pengguling akan memberikan ramuan-ramuan akar kayu untuk diminum sang ibu, kalau kita dekati dari sudut pandang medik, jenis akar kayu yang diberikan ini harus berasal dari akar kayu pohon-pohon tertentu saja (bukan sembarang akar), pohon-pohon tersebut memiliki agar bergetah, sekira ada peneliti berminat melakukan riset ini bisa menjadi proyek yang cukup spektakuler.

Getah dari akar pohon ini tidak langsung digunakan, tetapi sudah melalui proses dengan rentang waktu panjang. Mendapatkan akar kayu tersebut harus didahului dengan keluar masuk hutan yang masih rimba, sekedar menemukan pohon yang dimaksud, setelah mendapatkannya beliau harus keluar dari hutan dengan membawa se-ambong (ambong: nama sejenis bakul yang digunakan untuk membawa barang-barang perlengkapan berkebun, terbuat dari anyaman bambu atau rotan dan dipanggul pada punggung) akar kayu tadi, coba pikir, apa yang terjadi sekira setelah mendapat akar kayu nek pengguling ini tidak keluar lagi dari hutan!! intermezzo!! bisa jadi anak-anak yang akan dilahirkan mereka meminta perpanjangan waktu untuk nginap diperut ibunya, kasihankan ke ibunya termasuk kasihan juga kepada bapaknya.

Oke… begini, akar-akar kayu tadi segera diolah, pertama-tama, dicuci bersih lalu di potong-potong dan proses lanjutannya yang panjang adalah menjemur potongan akar-akar tadi menggunakan sinar matahri murni tanpa rekayasa (maksudnya: harus benar-benar dijemur dan disinari oleh matahari secara langsung) lamanya bisa memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan sampai akar itu benar-benar layu dan getah yang dimaksud tadi terperangkap pada pori-pori kayu; kemanfaatannya baru dirasakan setelah akar kayu kering tadi diseduh, disajikan secara khusus untuk kepentingan sang ibu pasca melahirkan (SERUPA OBAT MEDIK: ANTIBIOTIK dan SEJENISNYA) yang memang hanya diberikan secara khusus kepada ibu-ibu yang baru selesai melahirkan.

Dan paparan di atas semata disampaikan — agar dapat dipahami, mengapa … beliau ini sang nek pengguling tersebut pantas mendapatkan penghormatan dari masyarakat, penghormatan yang tulus sebagai wujud rasa terimakasih mereka karena jasa yang besar dari pekerjaan tanpa pamrih yang dilakukanny selama ini;

Sementara itu, penghormatan kepada para birokrat nampak hanya sebuah kepura-puraan semata. Tidak ada ketulusan pada bentuk hormat yang diberi masyarkat kepada mereka… penyebabnya sederhana … masyarakat pun terlalu sering mendapatkan simpati dalam topeng kepura-puraan dari segenap aparat birokrat, formalitas … itu sebutan jelasnya.

minggu, 4 Mei 2008

Maaf baru sempat lagi untuk melanjutkan obrolan……

Beberapa waktu lalu kita sempat membincangkan term dukun dengan berbagai persepsi terhadapnya.. ada yang alergi, ada pula yang merasakan kemanfaatan atas kehadirannya.
Ya sudahlah, yang beberapa waktu lalu saya sampaikan disini semata untuk memberi bahan banding sebagai bekal untuk mengidentifikasi serupa apa sebanarnya keluargaku ini. Kami tidak begitu dihormati, tidak ditakuti, tidak disegani dan masih banyak tidak … tidak dan tidak lainnya. Tapi bagi saya justru ini menjadi salah satu modal penting sebagai titik keberangkatan untuk menemukan warna baru, membuat citra, membangun cinta, dan meninggikan karya.
Kami empat bersaudara, semua laki-laki, orang tua kami tidak diamanahi anak perempuan. Kondisi serupa ini menjadi tidak yang lainnya tadi … yaitu tidak mudah bagi kedua orang tua kami untuk mendidik dan mendewasakan keempat putera mereka.
Jauh sebelum aku, anak pertama, dilahirkan …. ceritanya begini … waktu itu desa kami masih berupa kampung yang sepi…sepi sekali…menjelang malam tepatnya saat maghrib tiba tidak mudah mendapati orang-orang diluar rumah apa lagi dijalanan yang waktu itu kondisinya masih gelap gulita, tanpa ad penerangan,….seingat saya listrik masuk ke desa kami sekitar tahun 80-an entah 80 berapa tepatnya, itupun hasil swadaya masyarakat. Jadi, jauh sebelum itu di tahun 60-an terakhir, selepas sholat maghrib, suatu keanehan terjadi, tiba-tiba dari arah jendela yang pada waktu itu masih belum terkunci dilemparkan tiga helai baju dengan desain khusus baju anak perempuan, diusia sepuluhan nenek pernah memperlihatkan ketiganya langsung ke saya, tiga potong dengan model yang tidak jauh berbeda tetapi warnanya berlainan dan mencolok, kuning, putih dan merah masing-masing berenda cantik-cantik sekali ketiga-tiganya. Waktu itu nenek menuturkan, dia merasa baju itu sebagai suatu pertanda, tetapi beliau tidak pernah bererita lengkap mengenai pertanda apa sebenarnya yang beliau maksudkan,…terkecuali sesekali saya sering mendapati nenek memasang dupa sekita dupa terbakar dan asap mengepul berbarengan dengan aroma khas … beliau mengeluarkan ketiganya (baju anak perempuan tadi) selanjutnya asap dan baju-baju tadi seolah-olah menyatu. Tidak begitu jelas, apakah itu semacam ritual atau sekedar mengganti aroma apek karena lembab, maklumlah dizaman itu belum ada lemari-lemari besar kokoh tempat penyimpanan pakaian seperti pada jaman ini. Hanya saja, saya tidak begitu yakin itu yang menjadi tujuannya, sama halnya dengan ketidak yakinan bahwa itu menjadi salah satu bentuk ritual yang dikhususkan atas ketiga baju itu.

Kakek dan Nenek Buyutku terkategori manusia langka, usia mereka lumayan panjang rata-rata di atas 90 tahunan, ceritanya sih mereka termasuk kelompok orang-orang yang berilmu kanuragan tinggi, jadi banyak sekali pantangan-pantangan yang mengikat dan harus mereka jalankan, ini juga cuma dapat dengar-dengar dari orang lain – tidak ada alat bukti kuat untuk membenarkan atau menyalahkan itu semua, satu hal yang pasti terkait dengan usia mereka tadi, itu adalah kenyataan.
Kakek-Nenek buyutku ini dikaruniai dua anak, kakek kami adalah anak bungsu dari dua bersaudara, dan saudaranya laki-laki juga, kami memanggilnya Kik Long (Panggilan khas untuk setiap anak pertama di desa kami biasanya disebut dengan istilah itu, long, pak long (untuk anak laki-laki pertama), mak long (untuk anak perempuan pertama). Sedang anak paling bontot atau anak terakhir dipanggil busu (pak busu, kik busu, mak busu, nek busu). Kakek dan Nenek kami diamanati seorang anak, bapak kami anak tunggal, dia tidak memiliki saudara kandung, apakah dia tidak beruntung? atau dia sangat beruntung? Mungkin keduanya tidak menjadi pertanyaan penting… tepatnya tidak perlu penjelasan atas keduanya. Setelah menikahi ibu kami, beberapa tahun kemudian, sekitar dua atau tiga tahun dari hari pertama pernikahan mereka aku dilahirkan, tiga tahun kemudian lahir adik kedua, lima tahun umurku aku mendapatkan adik yang kedua dan pada saat aku duduk dikelas dua Sekolah Dasar waktu itu umur ku sudah 10 lahir adik terakhirku, kami semua laki-laki.

Penghidupan kakek dan nenek kami tergolong pada penghidupan yang lumayan, tidak sulit secara ekonomi dan tidak juga berlebihan. Kakek kami nelayan, seorang nelayan tulen. Istrinya yang menjadi nenek kami seorang perempuan rumahan, istimewanya beliau pintar masak. Dirumah panggungnya, nenek menghabiskan kesehariannya. Sesekali beliau juga berangkat ke kebun – berkebun mereka lakukan sebagai cadangan untuk menanggulangi masa-masa sulit sepanjang musim barat atau musim panca roba disaat-saat kakek kami tidak bisa berangkat melaut. Musim barat, ditandai dengan angin laut bertiup kencang dan hujan deras sepanjang hari, diwaktu itu para nelayan tidak berangkat ke laut, otomatis keperluan rumah tangga harus diganjal dari hasil kebun.