Category Archives: Uncategorized

RENCANA BISNIS DARI RUMAH

Semangat, Rencananya… mulai agustus tahun ini (2009) semua kegiatan bisnis (bisnis keluarga) yang masih berdomisi di Sekeloa akan kami alihkan ke rumah tinggal di Bojong Soang. Core Bisnisnya gak beda, hanya posisi saja yang bergeser, semula ditengah kota sebentar lagi pindah ke tengah kampung.

Tetap Optimis.
Karena ini bentuk usaha, atau kata lain dari upaya menemukan rizki yang sudah disebar-Nya, dengan keyakinan penuh – limpahan anugerah itu tidak hanya berada di tengah kerumanan saja tapi diantara semak belukar dan rindangnya pepohonan disanapun terdapat banyak karunia-Nya.

Mudah-mudahan, dengan operasional bisnis dari rumah – anak-anak juga bisa mendapatkan perhatian lebih banyak dari sebelumnya.
Anak-anak sudah mulai ke sekolah dan gesekan dengan lingkungan terasa limpah ruah. Terlihat langsung dari perubahan sikap anak, ada yang doyan main, dan lupa belajar, ada yang mulai agak berani mengeluarkan kata-kata kurang sedap, de el es be.5

RENTAL BUBAR

BISNIS ITU…. ADA PASANG ADA JUGA SURUTNYA.

Setelah hampir 13 tahun kami merintis usaha …. sekarang ditahun ke 14 semuanya harus berakhir. Penyebabnya relatif sangat sederhana, Pertama usaha yang kami jalankan menempati rumah kontrakan bukan rumah miliki pribadi kami; Kedua, Keuntungan yang kami dapat tidak mampu lagi menyokong jalannya usaha seiring dengan beban ekonomi yang makin tidak bisa diprediksi; Ketiga, TIngkat kedewasaan kami dalam bebisnis nampaknya masih memerlukan pelajaran kedewasaan lebih banyak lagi.

Walau usaha kami harus berakhir ditahun ini, tepatnya Agustus 2008 (kami pertama merintis usaha ini sekitar Februari 1995 lalu, sudah cukup banyak pengalaman dan hasil kami peroleh selama waktu itu. Terutama, saya dan adik-adik bisa menyelesaikan kuliah kami ditingkat sarjana. Kemudian saya dan adik nomor dua beristri juga dengan latarbelakang usaha tersebut diantaranya.

Ketika sang empunya rumah menyatakan mau mengambil haknya kembali ….. setelah kami mengontrak rumahnya selama lebih dari 13 tahun, tentu dalam hati kami ada sedikit kekecewaan karena kami baru saja mengembangkan usaha baru kami dan sudah berjalan cukup baik. Kami tidak mungkin berbuat banyak, karena rumah yang kami tempati ini memang bukan hak kami, itu hak sang empunya rumah.

setelah 13 tahun ….. kami harus siap meninggalkan banyak hal yang akan menjadi kenangan dikelak kemudian hari.

setelah 13 tahun ….. kami mendapat tidak sedikit dari sini…

Setelah 13 tahun ……kami pernah memberi???

Setidaknya ada beberapa saudara yang sempat tinggal bersama kami — mereka belajar mengadu nasib ….

Mereka juga belajar …. belajar hidup ….. belajar tentang kehidupan.

Tetangga kami …. mereka beberapa kali sempat berkumpul bersama kami disini, lantaran beberapa anak mereka sempat tinggal bersama kami uuntuk melanjutkan kuliahnya disalah satu PT disini, di Bandung.

Kini bisnis yang sedang surut … harus mundur sampai pada titik nadir….

selamat tinggal sekeloa.

Selamat tinggal

Selamat.

 

Sambungan 2 …. PANEN LADA

SEKOLAH DAN BERMAIN BERSAMA KAWAN-KAWAN

http://depacco.com/pages/index.php?refid=manto70

Setelah dua atau tiga bulan tak tersentuh … baru sekarang ..aku sempat menulis kembali beberapa kenangan masa lalu bersama sahabat-sahabatku.

 <a
href=”http://depacco.com/pages/index.php?refid=manto70″>Depacco.com</a>

Kehidupan di pedesaan (kampung) memang berbeda jauh dari suasana perkotaan. Kami tidak memiliki akses untuk menikmati permainan-permainan modern, sekalipun demikian kami tidak kehilangan kesempatan untuk urusan yang satu ini. Lingkungan tempat kami tinggal masih memberikan ruang yang begitu massive untuk melakukan banyak kegiatan, berbagai permainan ala kampung masih hidup dan kami nikmati. Hutan disekitar pemukiman kami masih dihuni banyak burung-burung liar dan salah satu kegemaran kami adalah meletik (mengetapel) burung-burung tersebut, sungguh mengasyikan. Sekedar permainan … kadang kami berhasil mendapat satu dua burung dari jenis berebak atau pentis terkadang dapat yang berukuran agak besar seperti burung punai. Hasil tanggkapan ini sangat enak disantap cukup dengan memanggangnya saja (tentu disembelih dan dibersihkan dulu …) plus diberi garam dan bumbu-bumbu tradisional … lezaaaat sekali. Sungguh masa itu sangat berkesan, kami ke sekolah bersama … jalan kaki… sekolah kami tidak jauh sekitar 1 Km dari rumah, dengan jalan kaki kami bisa sampai disana sekitar 15 – 20 menit. Sekolah kami masih dilingkupi separoh hutan tepat dihalaman belakang. Tapi halaman depannya sangat luas dan ada lapangan bola miliki salah satu PS (Persatuan Sepak Bola) yang ada dikampung kami (PS GARUDA … begitu kami menyebutnya), dan dilapangan itu juga kami berolah raga pada jam pelajaran Olah Raga. Belajar dan bermain bagi kami tidak ada perbedaan yang jauh …. kami masih bisa menikmati bersekolah tanpa harus mengenakan seragam, tanpa harus memakai sepatu hitam (bersendal jepit pun jadi).

O ya beberapa guru yang mengajar dari kelas satu sampai di kelas enam SD dulu …. mereka semua masih nampak jelas di ingatanku bahkan saat ini seakan mereka semua hadir dengan wajah ceriah dan ekspresi bahagia mereka ketika itu … kecuali satu .. bapak kepala sekolah kami yang selalu berwajah garang dan membuat kami semua ciut jika harus berhadapan dan menatap matanya (Pak Syahrul Asin/kepsek; Pak Jahani (guru kelas 1); Ibu Maimunah (guru kelas 2); Ibu Umiyati (guru kelas 3); Pak Ali (guru agama); Pak Rusdi (guru OR), Ibu Rida sebagai guru kesenian dan keterampilan sekaligus pembina kePramukaan; Pak   Ramli (guru kelas 4); pada saat kelas 5 Pak Ali menjadi wali kelas kami dan Ibu Maimunah wali kelas kami dikelas 6. Oleh mereka kami dikenalkan kepada peradaban – masa itu sungguh menakjubkan, serasa baru kemaren sore padahal itu sudah berlalu 25  atau bahkan 30 tahun lalu.

MEWAKILI SEKOLAH DI CERDAS-CERMAT TINGKAT KECAMATAN

 <a
href=”http://depacco.com/pages/index.php?refid=manto70″>Depacco.com</a>

 Alhamdulillah, sekalipun sekolah kami sekolah kampung – tapi disisi prestasi akademik kami tidak terlalu memalukan, beberapa kali aku dan teman-teman (Asrul, sampai sekarang masih ‘lajang’, dulu pernah ngerantau ke Jakarta – sempat menjadi sopir selama beberapa tahun, tapi entah mengapa kemudian dia kembali kekampung, berita terakhir, saat ini menjabar sebagai ketua RT disana dan buka usaha ternak ayam; dan satu lagi sohibku Fadilah, sekarang kerja disalah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di Bangka, sebagai tenaga akunting sesuai latar belakangnya, dia sempat kuliah di Diploma 3 salah satu Akademi Akuntansi di Bandung)  kami sering ditunjuk menjadi perwakilan sekolah di ajang cerdas-cermat tingkat kecamatan. Bukan nyombong, kami bahkan masuk sampai ke babak grand final waktu itu kami berhadapan dengan sekolah-sekolah favorit yang berada dikota kecamatan seperti SD Regina Pacis dan SD teladan (SD 9). Dan kami ada diperingkat kedua.

MEWAKILI SEKOLAH PADA PEMILIHAN SISWA TELADAN

<a href=”http://depacco.com/pages/index.php?refid=manto70” ><img src=”http://depacco.com/pages/images/468×602.gif” border=”0″ alt=”Depacco.com”></a>

Pada saat naik ke kelas enam, sebagai sekolah baru sekolah kami juga mencoba menajajal pamornya dengan mengikuti beberapa kompetisi yang dilakukan baik oleh diknas (waktu itu sih namanya masih Depdikbud… menterinya masih Prof. Dr. Daud Yusuf) maupun oleh pemda. Jadi sekolah kamipun tidak mau ketinggalan untuk ikut ambil bagian di dalamnya. Aku terpilih mewakili SDN Tanjung Binga 2. Ada lebih dari 50 sekolah se kecamatan Tanjung Pandan yang berpartisipasi, dan aku merasa sangat tertekan dengan kondisi itu, abis kita kan orang kampung mana mungkin bisa berkompetisi dan menang karena yang dihadapi orang-orang kota yang usia sekolah, pengalaman kesertaannya, fasilitas pendukung belajarnya sudah sangat lengkap bila dibanding sekolah kampung kami. Dan hasil akhirnya pun sudah bisa ditebak … kami tidak menang … hanya ada dalam lingkungan 10 besar tepatnya waktu itu ada di Ranking 9 dari sekian puluh peserta. Teman perempuan yang menjadi perwakilan SD kami, Royani, dia diperingkat 12. Royani nikah di usia muda selepas menamatkan SMP-nya dia langsung dilamar pacaranya, mereka menikah dan telah dikaruniai beberapa anak. Sekira tidak salah menghitung mungkin saat ini usia anaknya sudah belasan tahun, sebab salah satu teman dekat kami Jumiati, dulu dia atlit lari pendek dan lari jarak jauh perwakilan sekolah kami jika ada event-event olah raga, dia sering menjadi langganan juara, bahkan sempat dikirim ke Palembang untuk mewakili kabupaten Belitung (sebelum menjadi propinsi kepulauan Bangka-Belitung saat ini). Dia juga nikah muda dan saya yakin anak-anaknya sudah besar-besar sekarang (bisa jadi sudah menikah juga salah satu anaknya).

Hello NAME,

I want to tell you about a great site I found. They pay me to read e-mail,
visit web sites and much more.

It’s free to join and easy to sign up! CLICK THIS
LINK TO VISIT: http://depacco.com/pages/index.php?refid=manto70

CARA ANAK …. BELAJAR

ABANG SUKA NONTON KARTUN DAN BACA KOMIK – SAYID DAN HANIF LEBIH MEMILIH MAIN BALOK DAN MOBIL-MOBILAN

“Saya belum tahu banyak – seperti apa cara belajar ketiga anak laki-laki kami, Abang – kelas dua SD dan Sayid masih di TK besar sementara Hanif tahun ini sudah masuk 4 tahun dia juga udah minta untuk Sekolah…. katanya sih pengen punya teman yang banyak.”

Dari keseharian mereka, saya sering mendapati ketiganya sibuk bermain bersamaan – dan  dapat dipastikan setiap kali bermain tidak jarang diakhiri dengan tangisan salah satunya, sepele penyebabnya,… rebutan mainan, saling ledek atau ada yang kebentur dinding. Semasih permainannya aman saya lebih banyak membiarkan kejadian-kejadian serupa itu, terkecuali jika nampak sudah nyerempet ke hal-hal yang membahayakan baik secara fisik maupun non fisik, tiban-tibanan dengan posisi tak seimbang, loncat dari tempat tidur – berteriak dengan ucapan-ucapan yang tidak wajar maka saya akan lakukan tindakan pencegahan.

Simaklah paparan berikut ini. Tulisan Abang rapih dan enak dibaca. Dia juga sudah bisa tulis sambung walau beberapa kali dia catatannya tidak lengkap karena menulisnya agak lambat. Kalau mencari buku bacaan, Abang akan membolak-balik gambarnya atau penggambaran suasana cerita. Dia tidak suka membaca bagian-bagian yang sudah dibaca sebelumnya. Di kelas dia lebih suka kalau guru menerangkan sesuatu dengan gambar. Bagi Abang segala sesuatu yang ia dengar, cukup sekali dan akan dia ingat selamanya, jadi ketika ummi memintanya mengulang pelajaran sering terjadi kesalahpahaman, ummi dan saya meminta mengulang pelajaran sekolahnya, tapi respon yang kami dapat sangat dingin … bagian ini sering menjadi keributan dipagi hari.

Sedangkan, buku tulis Sayid lebih banyak halaman kosong dan tulisannya tak cukup rapih. Sayid selalu bilang sudah memahami pelajaran dengan baik, jadi tidak perlu ada catatan. Di dalam kelas Sayid selalu aktif bertanya, ia juga dianggap cermat mendengarkan pelajaran. Di rumah Sayid lebih asyik bermain PS dan selalu membaca ulang komik-komik yang dibeli, sampai hafal dialognya la selalu ingat kata-kata yang didengar?nya. Jangan coba-coba berjanji dengan Sayid, pasti akan dikejarnya.
Lain lagi dengan Fani yang selalu mempraktikkan perkataan guru di kelas. Dia paling suka melakukan percobaan. Semua tugas praktik dalam buku pelajaran dengan antusias dikerjakannya sendiri. Hanif semangat bertanya hal apa saja yang ingin diketahuinya untuk bisa dilakukan. Dia paling sering membantu ummi memasak. Ummi jarang melihat Hanif duduk membaca dan menulis. 

Sebagai orangtua saya menyadari bahwa anak memiliki cara belajar berbeda untuk mengembangkan potensinya. Saya membayangkan bahwa potensi anak berada di dalam satu kotak tertutup. Untuk membuka kotak tersebut, diperlukan kunci. Kunci yang dimaksud adalah bagaimana orangtua dapat memahami cara belajar anak, sehingga tidak perlu merasa cemas kalau melihat anak tampak santai di rumah karena tidak belajar. Tiap individu memiliki kekhasan sejak lahir dan diperkaya melalui pengalaman hidup. Yang pasti semua orang belajar melalui alat inderawi, baik penglihatan, pendengaran, dan kinestetik. Psikolog pendidikan menyakini bahwa setiap orang memiliki kekuatan belajar atau modalitas belajar. Semakin kita mengenal baik modalitas belajar kita maka akan semakin mudah dan lebih percaya diri di dalam menguasai suatu keterampilan dan konsep-konsep dalam hidup. Tiap individu memiliki kekhasan sejak lahir dan diperkaya melalui pengalaman hidup.

Belajar berawal dari rumah! Anak belajar melalui apa yang ia lihat, dengar, dan sentuh. Satu dari tiga saluran inderawi -visual, auditori dan kinestetik- adalah salah satu cara untuk belajar dengan baik. Salah satu faktor yang mempengaruhi cara belajar anak adalah persepsi, yaitu bagaimana dia memperoleh makna dari lingkungan. Persepsi diawali lima indera: mendengar, melihat, mengecap, mencium,dan merasa. Didunia pendidikan, istilah modalitas mengacu khusus untuk penglihatan, pendengaran, dan kinestetik. Modalitas visual menyangkut penglihatan dan bayangan mental. Modalitas pen?dengaran merujuk pada pendengaran dan pembicaraan. Modalitas kinestetik merujuk gerakan besar dan kecil. Salah satu tanda mengenali gaya belajar seseorang melalui kalimat yang ia gunakan. Tipe visual akan bicara misalnya, ” Mama, lihat muka Marsha dong jika mau bicara sesuatu.” Bu Guru bisa melihat apa yang aku maksudkan barusan?” Sedangkan, tipe auditori mengatakan, “Mama, dengerin, aku mau cerita:’Tipe kinestetik cenderung berbicara sangat singkat, bahkan tanpa komentar apapun. Tanpa disadari gaya belajar mempengaruhi seseorang memilih tempat duduk. Tipe visual lebih memilih duduk di baris depan. Tipe auditori cenderung duduk di tengah-tengah. Tipe kinestetik, lebih memilih duduk di sebelah kanan, dekat pintu. Mereka akan segera melarikan diri jika merasa tidak perlu mendengarkan. Apa yang bisa dibantu orangtua? Dengan memahami gaya belajar anak berarti akan membuat anak lebih bahagia. Karena respons orangtua terhadap kebutuhan dirinya tepat. Bagi anak dengan gaya belajar kinestetik, maka orangtua atau guru diharap pula aktif bersikap fisik. Anak tak mau buang waktu untuk bicara dan cenderung langsung pada apa yang harus dikerjakan. Anak sangat energik dan selalu nomor satu berdiri di depan barisan. Jika mendengarkan musik, dia bergoyang sesuai irama. Jika diajak jalan-jalan, tangannya mencoba menyen?tuh apa saja. Pilih mainan roda dua, tali lompat, bola, cat air, clan dough. Anak juga suka main drama. Penegakkan disiplin tak cukup hanya verbal, karena tak berpengaruh. Perlu digunakan cara time out. Anak tipe auditori terlihat gemar bicara. Di kelas sering mengganggu anak lain dengan teriakan dan cerita-ceritanya. Anak ini pencinta musik apa saja. Pilih berbagai macam CD dan alat musik main?an. Beri kesempatan sebanyak mungkin untuk bicara, menyanyi, mendengarkan, dan berteriak. Penegakan disiplin cukup dengan kata-kata. Gunakan dialog dan tatap muka untuk menjelaskan masalah yang perlu menjadi perhatiannya.
Anak tipe visual tampak terpaku dalam mengamati sesuatu. Dia penuh rasa ingin tahu terhadap hal baru. Orangtua dapat memberikan kesempatan melalui gambar-gambar. Berbagai perlengkapan seperti papan tulis, krayon, cat air, spidol, gunting clan lem bisa disiapkan untuknyz Termasuk main-an boneka-boneka yang dapat diganti pakaiannya. Disiplin ditegakkan dengan mengacu pada orangtua. Mereka tidak membutuhkan
perkataan panjang lebar, tetapi cukup mencontoh perbuatan orangtua. Hadiah cukup dengan senyum lebar, dan ekspresi orangtua terhadap kegiatan mereka.
Peraturan bagi orang tua :
1. Sadari tipe gaya belajar anak. Tipe kinestetik, visual, auditori atau kombinasi.
2. Sadari tipe gaya belajar diri. Orangtua bisa saja memiliki gaya belajar berbeda dengan anaknya.
3. Penuhi anak dengan kesempatan agar dia berhasil dalam modalitas yang dimilikinya.
4. Disiplin dan beri hadiah sesuai dengan gaya belajarnya.
5. Selalu melihat posisi terbaik yang dimiliki anak untuk dikembangkan.
6. Bantulah anak menggunakan strategi modalitas untuk menguasai berbagai keterampilan clan konsep lainnya.–*
Karakteristik Gaya Belajar
Visual
Gaya, Belajar melalui pengamatan: mengamati peragaan
Membaca, Menyukai deskripsi, sehingga seringkali ditengah-tengah membaca berhenti untuk membayangkan apa yang dibacanya.
Mengeja, Mengenali huruf melalui rangkaian kata yang tertulis
Menulis, Hasil tulisan cenderung baik, terbaca jekas dan rapi.
Ingatan, Ingat muka lupa nama, selalu menulis apa saja.
Imajinasi, Memiliki imajinasi kuat dengan melihat detil dari gambar yang ada.
Distraktibilitas, Lebih mudah terpecah perhatiannya jika ada gambar.
Pemecahan, Menulis semua hal yang dipikirkan dalam suatu daftar.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Jalan-jalan melihat sesuatu yang dapat dilihat.
Respon untuk situasi baru, Melihat sekeliling dengan mengamati struktur.
Emosi, Mudah menangis dan marah, tampil ekspresif
Komunikasi, Tenang tak banyak bicara panjang, tak sabaran mendengar, lebih banyak mengamati.
Penampilan, Rapi, paduan warna senada, dan suka urutan.
Respon terhadap seni, Apresiasi terhadap seni apa saja yang dilihatnya secara mendalam dengan detil dan komponen, daripada karya secara keseluruhan.

Auditori
Gaya, belajar melalui instruksi dari orang lain
Membaca, Menikmati percakapan dan tidak memperdulikan ilustrasi yang ada
Mengeja, Menggunakan pendekatan melalui bunyi kata
Menulis, Hasil tulisan cenderung tipis, seadanya
Ingatan, ingat nama lupa muka,ingatan melaui pengulangan.
Imajinasi, Tak mengutamakan detil, lebih berpikir mengandalkan pendengaran.
Distraktibilitas, Mudah terpecah perhatiannya dengan suara.
Pemecahan, Pemecahan masalah melalui lisan.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Ngobrol atau bicara sendiri.
Respon untuk situasi baru, Bicara tentang pro dan kontra.
Emosi, Berteriak kalau bahagia, mudah meledak tapi cepat reda, emosi tergambar jelas melalui perubahan besarnya nada suara, dan tinggi rendahnya nada.
Komunikasi, Senang mendengar dan cenderung repetitif dalam menjelaskan.
Penampilan, Tak memperhatikan harmonisasi paduan warna dalam penampilan.
Respon terhadap seni, Lebih memilih musik. Kurang tertarik seni visual, namun siap berdiskusi sebagai karya secara keseluruhan,tidak berbicara secara detil dan komponen yang dilihatnya.

Kinestetik
Gaya, Belajar melalui melakukan sesuatu secara langsung
Membaca, Lebih memiliki bacaan yang sejak awal sudah menunjukkan adanya aksi.
Mengeja, Sulit mengeja sehingga cenderung menulis kata untuk memastikannya
Menulis, Hasil tulisan “nembus” dan ada tekanan kuat pada alat tulis sehingga menjadi sangat jelas terbaca.
Ingatan, Lebih ingat apa yang sudah dilakukan, daripada apa yang baru saja dilihat atau dikatakan.
Imajinasi, Imajinasi tak terlalu penting, lebih mengutamakan tindakan/kegiatan.
Distraktibilitas, Perhatian terpecah melalui pendengaran
Pemecahan, Pemecahan masalah melalui kegiatan fisik dan aktivitas.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Mencari kegiatan fisik bergerak.
Respon untuk situasi baru, Mencoba segala sesuatu dengan meraba, merasakan dan memanipulasi.
Emosi, Melompat-lompat kalau gembira, memeluk, menepuk, dan gerakan tubuh keseluruhan sebagai luapan emosi.
Komunikasi, Menggunakan gerakan kalau bicara, kurang mampu mendengar dengan baik.
Penampilan, Rapi, namun cepat berantakan karena aktivitas yang dilakukan
Respon terhadap seni, Respons terhadap musik melalui gerakan. Lebih memiliki patung, melukis yang melibatkan aktivitas gerakan.
teks ini diambil dari tulisan DR Reni Akbor Howodi Psi. Fok. Psikologi U1.

STRESS – JANGAN SAMPAI DECH!!

CARA MENGHADAPI STRESS/KETEGANGAN

Pertama-tama, anda harus belajar mengenali stres:

Gejala-gejala stres mencakup mental, sosial dan fisik. Hal-hal ini meliputi kelelahan, kehilangan atau meningkatnya napsu makan, sakit kepala, sering menangis, sulit tidur dan tidur berlebihan. Melepaskan diri dari alkohol, narkoba, atau perilaku kompulsif lainnya sering merupakan indikasi-indikasi dari gelaja stres. Perasaan was-was, frustrasi, atau kelesuan dapat muncul bersamaan dengan stres.

Jika anda merasa stres mengaruhi pelajaran anda,
langkah pertama adalah mencari bantuan melalui pusat koseling di sekolah anda.

Manajemen stres adalah kemampuan untuk mengendalikan diri ketika situasi, orang-orang, dan kejadian-kejadian yang ada memeberi tuntutan yang berlebihan. Apa yang dapat anda lakukan untuk mengatur stres anda? Strategi-strategi apa yang ada?

Perhatikan lingkunga sekitar anda
Lihatlah mungkin ada sesuatu yang benar-benar dapat anda ubah atau kendalikan dalam situasi tersebut. Belajarlah cara terbaik untuk merelaksasikan diri anda
Meditasi dan latihan pernafasan telah terbukti efektif dalam mengendalikan stress. Berlatihlah untuk menjernihkan pikiran anda dari pikiran-pikiran yang menggangu.
Jauhkan diri anda dari situasi-situasi yang menekan
Beri diri anda kesempatan untuk beristirahat biarpun hanya untuk beberapa saat setiap hari. Tentukan tujuan yang realistis bagi diri anda sendiri
Dengan mengurangi jumlah kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidup anda, anda akan dapat mengurangi beban yang berlebihan.
Jangan mempermasalahkan hal-hal yang sepele
Cobalah untuk memprioritaskan beberpa hal yang benar-benar penting dan biarkan yang lainnya mengikuti. Jangan membebani diri anda secara berlebihan
dengan mengeluh mengenai seluruh beban kerja anda. Tangani setiap tugas sebagaimana mestinya, atau tangani secara selektif dengan memperhatikan beberapa prioritas.
Secara selektif ubahlah cara anda bereaksi
Tapi jangan terlalu banyak sekaligus. Fokuskan pada satu masalah dan kendalikan reaksi anda terhadap hal ini. Ubahlah cara pandang anda
Belajarlah untuk mengenali stress. Tingkatkan reaksi tubuh anda dan buatlah pengaturan diri terhadap stress.
Hindari reaksi yang berlebihan;
Mengapa harus membenci jika sedikit tidak suka sudah cukup? Mengapa harus merasa bingung jika cukup dengan hanya merasa gugup? Mengapa harus mengamuk jika marah saja sudah cukup? Mengapa harus depresi ketika cukup dengan merasa sedih? Lakukan sesuatu untuk orang lain
Untuk melepaskan pikiran dari masalah anda sendiri.
Tidur secukupnya
Kurang istirahat hanya akan memperburuk stress. Hindari stress
Dengan kegiatan-kegiatan fisik, misalnya jogging, tennis ataupun berkebun.
Hindari pengobatan diri sendiri atau menghindar
Alkohol dan obat-obatan dapat menyembunyikan stres. Namun tidak dapat membantu memecahkan masalah. Tingkatkan ketahanan diri anda
Yang harus digarisbawahi dari manajemen stress adalah ?Saya membuat diri saya sendiri sedih?.
Cobalah untuk ?memanfaatkan? stress
Jika anda tidak dapat melawan apa yang mengganggu anda, dan anda tidak dapat menghindar darinya, berjalanlah seiring dengannya dan cobalah untuk memanfaatkannya secara produktif.

Cobalah untuk menjadi seseorang yang positif
Tanamkan pada diri anda bahwa anda dapat mengatasi segala sesuatu dengan baik daripada hanya memikirkan betapa buruknya segala sesuatu yang terjadi. ?Stress sebenarnya dapat membantu ingatan, terutama pada ingatan jangka pendek dan tidak terlalu kompleks. Stress dapat menyebabkan peningkatan glukosa yang menuju otak, yang memberikan energi lebih pada neuron. Hal ini, sebaliknya, meningkatkan pembentukan dan pengembalian ingatan. Di sisi lain, jika stress terjadi secara terus-menerus, dapat menghambat pengiriman glukosa dan mengganggu ingatan.? All Stress Up, St. Paul Pioneer Press Dispatch, hal 8B, Senin, 30 November 1998.

Yang terpenting, jika stress menempatkan anda dalam keadaan yang tidak teratasi atau mengganggu kegiatan sekolah anda, kehidupan sosial ataupun kehidupan kerja, carilah bantuan ahli di pusat konseling sekolah anda.

Menyiapkan diri dalam ujian (Inggris)

Kemampuan anda menghadapi stres: “Bagaimana cara menghadapi stress?” oleh Body-Mind QueenDom

——————————————————————————–

PANEN LADA PERTAMA MEMBIAYAI KULIAHKU

1.KELUARGAKU-2.KELUARGAKU-3.KELUARGAKU

1. KELUARGAKU

Keluarga kami,…aku tidak paham benar dari mana silsilah keluarga ini bermula, tapi setidaknya aku masih sempat kenal dengan kakek dan nenek buyutku sebelum mereka meninggal di usiaku yang relatif sudah dewasa. Waktu itu aku sedah dikelas 1 SMA ketika nenek buyutku meninggal. Tak banyak kesedihan yang aku rasakan — walaupun sehari-hari aku cukup dekat dengan beliau tapi tidak terlalu banyak yang kupahami siapa dan bagaimana buyut-buyutku itu sepenuhnya.

Dalam struktur sosial kemasyarakatan – keluarga kami tidak tergolong kelompok berada dipandang dari sisi materi, tidak juga dipandang sebagai kelompok keluarga yang patut mendapat penghormatan lebih, selayaknya penghormatan biasa ditujukan kepada kelompok alim ulama (para lebai) dan para guru. Kedua kelompok ini memang pantas mendapatkannya karena mereka banyak memberikan panutan sebagai petunjuk nyata bagi kemaslahatan kehidupan bermasyarakat di desa kami. Kelas terakhir yang banyak mendapat penghormatan adalah para petinggi adat dan birokrat disana. Pemangku adat biasanya disimbolkan pada eksistensi seorang dukun kampung dan seorang dukun beranak (nek pengguling) – mereka disegani – atau dihormati – mungkin juga ditakuti – karena ada embel-embel sebutan dukun pada profesi yang mereka tanggungjawabi.

Sebenarnya, seorang dukun kampung tak lebih dari seseorang yang karena garis keturunannya atau bisa jadi karena kedigjayaan yang dimilikinya maka dia dianggap pantas dijadikan sebagai seorang yang dituakan terutama pada persoalan-persoalan adat yang terhubung pada masalah-masalah mistis dan magis. Menghadapi tipe persoalan ini…beliau adalah bemfer (tameng/pelindung) dalam persepsi adat orang-orang didesa kami. Beliau dituakan — karena umur rata-rata para dukun ini biasanya sudah sangat uzur dan tahtanya tak tergantikan sepanjang hayat. Artinya akan ada dukun kampung yang baru setelah dipastikan dukun kampung lama sudah meninggal. Atau mungkin digantikan apabila yang bersangkutan mengalami persoalan-persoalan berat dan bersifat pribadi sehingga secara sadar yang bersangkutan menyatakan pengunduran dirinya dan meminta agar digantikan oleh orang lain yang beliau tunjuk dan bisa juga sebagai hasil sebuah musyawarah dari sekelompok orang-orang berilmu!! yang ada didesa kami.

Satu lagi, sebutan dukun melekat pada seorang yang dia memproklamirkan dirinya – proklamasi ini kemudian diamini oleh warga dan petinggi desa, proklamasi sebagai nek pengguling (dukun beranak) — tidak banyak orang yang menginginkan profesi ini. Sebagian besar merasa takut, tentu dengan berbagai alasan seperti; belum ada panggilan jiwa (seperti halnya statement orang yang akan berangkat ke haji), mereka merasa siap untuk menekuni profesi ini seketika ada panggilan dari dalam dirinya. Alasan kurangnya pengetahuan tidak menjadi kategori alasan mengapa tidak banyak orang atau tidak sembarang orang mau mengambil resiko berprofesi sebagai nek pengguling ini.

Kecenderungan yang memegang tampuk kekuasaan ini — juga berasal dari kelompok usia orang-orang yang sudah uzur (nenek-nenek).

Nampaknya, persoalan privasi – bisa menjadi secuil alasan kurang diminatinya profesi satu ini. Bayangkan, kampung atau desa kami waktu itu saja populasinya sudah mendekati angka 2000-an, untuk ukuran desa terpencil jumlah itu tidak sedikit, dengar-dengar sekarang ini populasinya sudah hampir 6000-an, artinya tingkat pertumbuhan penduduk didesa kami lumayan pesat. Jika dalam sebulan ada satu pernikahan, setahun terdapat dua belas pasangan rumah tangga baru. Setahun kemudian, setidaknya (70 sampai dengan 80)% dari jumlah pasangan ini akan melahirkan anak-anak mereka.

Kira-kira siapa orangnya yang akan rela dan dengan penuh suka cita mengambil resiko untuk memproklamirkan dirinya sebagai nek pengguling tadi, sudah harus terbayangkan…pekerjaan semacam apa yang akan dihadapinya….bukan sekedar sebagai penyaksi atas kelahiran bayi suci dari setiap pasangan baru….. maaf saya lupa memperhitungkan… kelahiran yang mungkin terjadi dalam setahun berasal dari pasangan keluarga yang tidak baru lagi.

Di kampung kami sedikit sekali jumlah keluarga; .. jarang …jarang sekali … ada; sebuah bentukan rumah tangga yang anak-anak dari hasil pernikannya hanya satu atau dua. Setiap rumah rata-rata memiliki lima sampai enam orang anak, ini lazim, biasa, umum, lumrah…. bukan karena program pemerintah “KB” tidak sampai ke sana, juga bukan karena ibu-ibu atau bapak-bapaknya tidak pernah mendapatkan penyuluhan bagaimana keluarga sejahtera, semua itu sudah mereka terima. Bahkan setahun bisa jadi dilakukan beberapa kali penyuluhan, ada tim dari desa, kecamatan, kabupaten, provinsi dan bahkan sampai pada skala nasional pernah datang dan ada yang secara rutin memberikan penyuluhannya. Dan hasilnya,… dari tahun ke tahun tidak terlalu jauh perbedaannya. Bukan gagal, tapi belum berhasil.

Nah jika dihitung-hitung, misal dari penduduk yang tadi jumlahnya 2000-an itu, usia produktifnya berjumlah 500 saja (laki-laki + perempuan) , dan yang berkeluarga separohnya dikurangi 10% (ini sih rumus kira-kira, kalau ada minat untuk menghitungnya secara eksak nanti saya rekomendasikan untuk datang ke sana sehingga kita dapat angka realnya).

Tadi, separoh dari 500 adalah 250, kemudian jumlah ini dikurangi 25 (10% tadi itu), kita dapatkan angka 225 orang. Karena dalam bentuk pasangan , angka 225 ini kan ganjil jadi kalau kita pasangkan jumlahnya menjadi tidfak pas, untuk menggenapkannya bolehlah kita tambahin 1 sehingga jumlahnya menjadi 226 nah angka ini jadi enak kalau dibagi dua untuk menunjukkan banyaknya jumlah pasangan (226 : 2 = 113); wah angka kira-kiranya lumayan fantastis juga ya. Bagaimana tidak, coba perhatikan andai 10% dari jumlah pasangan produktif ini ternyata hamil bersamaan dalam waktu setahun, ada tambahan kelahiran sebanyak 11,3 kelahiran baru, jadi jumlah totalnya; perkiraan maksimal: 8 +11,3 =19,3 kelahiran setahun, sedangkan minimalnya:7+11,3 =18,3 kelahiran yang harus dihadapinya (nek pengguling). Nampaknya cukup masuk akal, mengapa hanya orang-orang yang mendapatkan panggilan saja yang siap untuk menceburkan dirinya dalam profesi mulia ini …. membantu kelahiran …. turut jadi penyaksi antara perjuangan untuk bertahan hidup dan kesiapan untuk dijemput ajalnya.

Jangan ditanya berapa bayaran yang mereka terima, ucapan terima kasih… adalah upah yang paling lazim beliau peroleh. Tidak ada tarif, tidak ada biaya ini itu, terkecuali setelah datang bidan desa. Nek pengguling bukan pekerja profesi yang setelah mereka menyelesaikan tugas-tugasnya – akan bersegera mengeluarkan kuitansi, nota atau apalah namanya yang berisi catatan jumlah pembiayaan yang harus dikeluarkan pasangan yang berbahagia karena kelahiran bayi mereka. Tidak sampai disana saja, beliaupun turut merawat ibu dan bayi ini sampai kondisinya stabil dan aman. Nek pengguling akan memberikan ramuan-ramuan akar kayu untuk diminum sang ibu, kalau kita dekati dari sudut pandang medik, jenis akar kayu yang diberikan ini harus berasal dari akar kayu pohon-pohon tertentu saja (bukan sembarang akar), pohon-pohon tersebut memiliki agar bergetah, sekira ada peneliti berminat melakukan riset ini bisa menjadi proyek yang cukup spektakuler.

Getah dari akar pohon ini tidak langsung digunakan, tetapi sudah melalui proses dengan rentang waktu panjang. Mendapatkan akar kayu tersebut harus didahului dengan keluar masuk hutan yang masih rimba, sekedar menemukan pohon yang dimaksud, setelah mendapatkannya beliau harus keluar dari hutan dengan membawa se-ambong (ambong: nama sejenis bakul yang digunakan untuk membawa barang-barang perlengkapan berkebun, terbuat dari anyaman bambu atau rotan dan dipanggul pada punggung) akar kayu tadi, coba pikir, apa yang terjadi sekira setelah mendapat akar kayu nek pengguling ini tidak keluar lagi dari hutan!! intermezzo!! bisa jadi anak-anak yang akan dilahirkan mereka meminta perpanjangan waktu untuk nginap diperut ibunya, kasihankan ke ibunya termasuk kasihan juga kepada bapaknya.

Oke… begini, akar-akar kayu tadi segera diolah, pertama-tama, dicuci bersih lalu di potong-potong dan proses lanjutannya yang panjang adalah menjemur potongan akar-akar tadi menggunakan sinar matahri murni tanpa rekayasa (maksudnya: harus benar-benar dijemur dan disinari oleh matahari secara langsung) lamanya bisa memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan sampai akar itu benar-benar layu dan getah yang dimaksud tadi terperangkap pada pori-pori kayu; kemanfaatannya baru dirasakan setelah akar kayu kering tadi diseduh, disajikan secara khusus untuk kepentingan sang ibu pasca melahirkan (SERUPA OBAT MEDIK: ANTIBIOTIK dan SEJENISNYA) yang memang hanya diberikan secara khusus kepada ibu-ibu yang baru selesai melahirkan.

Dan paparan di atas semata disampaikan — agar dapat dipahami, mengapa … beliau ini sang nek pengguling tersebut pantas mendapatkan penghormatan dari masyarakat, penghormatan yang tulus sebagai wujud rasa terimakasih mereka karena jasa yang besar dari pekerjaan tanpa pamrih yang dilakukanny selama ini;

Sementara itu, penghormatan kepada para birokrat nampak hanya sebuah kepura-puraan semata. Tidak ada ketulusan pada bentuk hormat yang diberi masyarkat kepada mereka… penyebabnya sederhana … masyarakat pun terlalu sering mendapatkan simpati dalam topeng kepura-puraan dari segenap aparat birokrat, formalitas … itu sebutan jelasnya.

minggu, 4 Mei 2008

Maaf baru sempat lagi untuk melanjutkan obrolan……

Beberapa waktu lalu kita sempat membincangkan term dukun dengan berbagai persepsi terhadapnya.. ada yang alergi, ada pula yang merasakan kemanfaatan atas kehadirannya.
Ya sudahlah, yang beberapa waktu lalu saya sampaikan disini semata untuk memberi bahan banding sebagai bekal untuk mengidentifikasi serupa apa sebanarnya keluargaku ini. Kami tidak begitu dihormati, tidak ditakuti, tidak disegani dan masih banyak tidak … tidak dan tidak lainnya. Tapi bagi saya justru ini menjadi salah satu modal penting sebagai titik keberangkatan untuk menemukan warna baru, membuat citra, membangun cinta, dan meninggikan karya.
Kami empat bersaudara, semua laki-laki, orang tua kami tidak diamanahi anak perempuan. Kondisi serupa ini menjadi tidak yang lainnya tadi … yaitu tidak mudah bagi kedua orang tua kami untuk mendidik dan mendewasakan keempat putera mereka.
Jauh sebelum aku, anak pertama, dilahirkan …. ceritanya begini … waktu itu desa kami masih berupa kampung yang sepi…sepi sekali…menjelang malam tepatnya saat maghrib tiba tidak mudah mendapati orang-orang diluar rumah apa lagi dijalanan yang waktu itu kondisinya masih gelap gulita, tanpa ad penerangan,….seingat saya listrik masuk ke desa kami sekitar tahun 80-an entah 80 berapa tepatnya, itupun hasil swadaya masyarakat. Jadi, jauh sebelum itu di tahun 60-an terakhir, selepas sholat maghrib, suatu keanehan terjadi, tiba-tiba dari arah jendela yang pada waktu itu masih belum terkunci dilemparkan tiga helai baju dengan desain khusus baju anak perempuan, diusia sepuluhan nenek pernah memperlihatkan ketiganya langsung ke saya, tiga potong dengan model yang tidak jauh berbeda tetapi warnanya berlainan dan mencolok, kuning, putih dan merah masing-masing berenda cantik-cantik sekali ketiga-tiganya. Waktu itu nenek menuturkan, dia merasa baju itu sebagai suatu pertanda, tetapi beliau tidak pernah bererita lengkap mengenai pertanda apa sebenarnya yang beliau maksudkan,…terkecuali sesekali saya sering mendapati nenek memasang dupa sekita dupa terbakar dan asap mengepul berbarengan dengan aroma khas … beliau mengeluarkan ketiganya (baju anak perempuan tadi) selanjutnya asap dan baju-baju tadi seolah-olah menyatu. Tidak begitu jelas, apakah itu semacam ritual atau sekedar mengganti aroma apek karena lembab, maklumlah dizaman itu belum ada lemari-lemari besar kokoh tempat penyimpanan pakaian seperti pada jaman ini. Hanya saja, saya tidak begitu yakin itu yang menjadi tujuannya, sama halnya dengan ketidak yakinan bahwa itu menjadi salah satu bentuk ritual yang dikhususkan atas ketiga baju itu.

Kakek dan Nenek Buyutku terkategori manusia langka, usia mereka lumayan panjang rata-rata di atas 90 tahunan, ceritanya sih mereka termasuk kelompok orang-orang yang berilmu kanuragan tinggi, jadi banyak sekali pantangan-pantangan yang mengikat dan harus mereka jalankan, ini juga cuma dapat dengar-dengar dari orang lain – tidak ada alat bukti kuat untuk membenarkan atau menyalahkan itu semua, satu hal yang pasti terkait dengan usia mereka tadi, itu adalah kenyataan.
Kakek-Nenek buyutku ini dikaruniai dua anak, kakek kami adalah anak bungsu dari dua bersaudara, dan saudaranya laki-laki juga, kami memanggilnya Kik Long (Panggilan khas untuk setiap anak pertama di desa kami biasanya disebut dengan istilah itu, long, pak long (untuk anak laki-laki pertama), mak long (untuk anak perempuan pertama). Sedang anak paling bontot atau anak terakhir dipanggil busu (pak busu, kik busu, mak busu, nek busu). Kakek dan Nenek kami diamanati seorang anak, bapak kami anak tunggal, dia tidak memiliki saudara kandung, apakah dia tidak beruntung? atau dia sangat beruntung? Mungkin keduanya tidak menjadi pertanyaan penting… tepatnya tidak perlu penjelasan atas keduanya. Setelah menikahi ibu kami, beberapa tahun kemudian, sekitar dua atau tiga tahun dari hari pertama pernikahan mereka aku dilahirkan, tiga tahun kemudian lahir adik kedua, lima tahun umurku aku mendapatkan adik yang kedua dan pada saat aku duduk dikelas dua Sekolah Dasar waktu itu umur ku sudah 10 lahir adik terakhirku, kami semua laki-laki.

Penghidupan kakek dan nenek kami tergolong pada penghidupan yang lumayan, tidak sulit secara ekonomi dan tidak juga berlebihan. Kakek kami nelayan, seorang nelayan tulen. Istrinya yang menjadi nenek kami seorang perempuan rumahan, istimewanya beliau pintar masak. Dirumah panggungnya, nenek menghabiskan kesehariannya. Sesekali beliau juga berangkat ke kebun – berkebun mereka lakukan sebagai cadangan untuk menanggulangi masa-masa sulit sepanjang musim barat atau musim panca roba disaat-saat kakek kami tidak bisa berangkat melaut. Musim barat, ditandai dengan angin laut bertiup kencang dan hujan deras sepanjang hari, diwaktu itu para nelayan tidak berangkat ke laut, otomatis keperluan rumah tangga harus diganjal dari hasil kebun.

MATEMATIKA SEHARI-HARI

MATEMATIKA DALAM KEHIDUPAN

Mengajarkan matematika kepada anak biasanya menjadi salah satu pekerjaan berat yang dihadapi orang tua, terutam menjelang anak-anaknya memasuki sekolah-sekolah formal mereka. Ini adalah fakta….karena banyak sekali keluhan terdengar berkait kepada sebutan matematika ini.

Sederhananya, matematika sering juga kita sebut dengan ilmu berhitung. Kepandaian berhitung pada seorang anak terukur ketika dia mulai mengenai nama-nama angka ataui simbol-simbolnya. Cara termudah yang digunakan pengajar matematika modern saat ini adalah membenamkan anak pada dua kondisi tersebut. Tentu saja ada anak yang bisa mengikutinya dengan mudah sekali atau ada juga yang merasa sulit dan akhirnya mereka kehilangan selera terhadap term Matematika ini.

Kehidupan kita sehari-hari sebetulnya tidak lepas dari matematika… mulai pagi sejak kita bangun sampai larut malam ketika kita berangkat ke peraduan …. matematika selalu menemani. Singkatnya, mengenalkan … saya gunakan kita “mengenalkan” matematika kepada anak, bukan mengajarkan, dapat kita lakukan melalui aktifitas keseharian. Tidak usah ada paksaan semua bisa dijalankan natural.

Contoh kecil, anak dibiasakan membereskan tempat tidur mereka, menyusun bantal (mereka harus mengelompokkan jenis bantal berdasarkan ukuran dan bentuk) agar tempat tidur mereka nampak rapih, melipat selimut …. itu juga matematika (geometri) bahkan sampai ke matematika tingkat tinggipun dapat kita kenalkan kepada anak sejak usia dini.

Kami, meminta anak kami “Hanif” 3 tahun, untuk berbelanja — membeli beberapa keperluan untuk di dapur, — awalnya kami lengkapi dia dengan catatan kecil berisi item-item yang harus dibelinya + uang belanja sejumlah nilai belanja yang harus dibawanya pulang. Dia enjoy …. karena aktifitas tersebut dirasanya seperti sedang bermain dan sekaligus menjadi “his new experiences”.

Anda punya pengalaman lain??

Berdagang “Jualan” juga salah satu aktifitas ekonomi yang tidak lepas dari matematika —“Faqih” dia belajr menawarkan suatu produk kepada orang-orang disekelilingnya, beberapa diantaranya orang baru yang dia tidak begitu kenal. Untuk menawarkan produknya dia harus mampu mengkomuniksikan apa yang kan ditawarkannya, disana dia juga mempelajari berapa jumlah keuntungan yang akan diperolehnya dari suatu transaksi yang terjadi.

Matematika is fun…..