Category Archives: Secret Idea

nobody know then world know all

Sambungan 2 …. PANEN LADA

SEKOLAH DAN BERMAIN BERSAMA KAWAN-KAWAN

http://depacco.com/pages/index.php?refid=manto70

Setelah dua atau tiga bulan tak tersentuh … baru sekarang ..aku sempat menulis kembali beberapa kenangan masa lalu bersama sahabat-sahabatku.

 <a
href=”http://depacco.com/pages/index.php?refid=manto70″>Depacco.com</a>

Kehidupan di pedesaan (kampung) memang berbeda jauh dari suasana perkotaan. Kami tidak memiliki akses untuk menikmati permainan-permainan modern, sekalipun demikian kami tidak kehilangan kesempatan untuk urusan yang satu ini. Lingkungan tempat kami tinggal masih memberikan ruang yang begitu massive untuk melakukan banyak kegiatan, berbagai permainan ala kampung masih hidup dan kami nikmati. Hutan disekitar pemukiman kami masih dihuni banyak burung-burung liar dan salah satu kegemaran kami adalah meletik (mengetapel) burung-burung tersebut, sungguh mengasyikan. Sekedar permainan … kadang kami berhasil mendapat satu dua burung dari jenis berebak atau pentis terkadang dapat yang berukuran agak besar seperti burung punai. Hasil tanggkapan ini sangat enak disantap cukup dengan memanggangnya saja (tentu disembelih dan dibersihkan dulu …) plus diberi garam dan bumbu-bumbu tradisional … lezaaaat sekali. Sungguh masa itu sangat berkesan, kami ke sekolah bersama … jalan kaki… sekolah kami tidak jauh sekitar 1 Km dari rumah, dengan jalan kaki kami bisa sampai disana sekitar 15 – 20 menit. Sekolah kami masih dilingkupi separoh hutan tepat dihalaman belakang. Tapi halaman depannya sangat luas dan ada lapangan bola miliki salah satu PS (Persatuan Sepak Bola) yang ada dikampung kami (PS GARUDA … begitu kami menyebutnya), dan dilapangan itu juga kami berolah raga pada jam pelajaran Olah Raga. Belajar dan bermain bagi kami tidak ada perbedaan yang jauh …. kami masih bisa menikmati bersekolah tanpa harus mengenakan seragam, tanpa harus memakai sepatu hitam (bersendal jepit pun jadi).

O ya beberapa guru yang mengajar dari kelas satu sampai di kelas enam SD dulu …. mereka semua masih nampak jelas di ingatanku bahkan saat ini seakan mereka semua hadir dengan wajah ceriah dan ekspresi bahagia mereka ketika itu … kecuali satu .. bapak kepala sekolah kami yang selalu berwajah garang dan membuat kami semua ciut jika harus berhadapan dan menatap matanya (Pak Syahrul Asin/kepsek; Pak Jahani (guru kelas 1); Ibu Maimunah (guru kelas 2); Ibu Umiyati (guru kelas 3); Pak Ali (guru agama); Pak Rusdi (guru OR), Ibu Rida sebagai guru kesenian dan keterampilan sekaligus pembina kePramukaan; Pak   Ramli (guru kelas 4); pada saat kelas 5 Pak Ali menjadi wali kelas kami dan Ibu Maimunah wali kelas kami dikelas 6. Oleh mereka kami dikenalkan kepada peradaban – masa itu sungguh menakjubkan, serasa baru kemaren sore padahal itu sudah berlalu 25  atau bahkan 30 tahun lalu.

MEWAKILI SEKOLAH DI CERDAS-CERMAT TINGKAT KECAMATAN

 <a
href=”http://depacco.com/pages/index.php?refid=manto70″>Depacco.com</a>

 Alhamdulillah, sekalipun sekolah kami sekolah kampung – tapi disisi prestasi akademik kami tidak terlalu memalukan, beberapa kali aku dan teman-teman (Asrul, sampai sekarang masih ‘lajang’, dulu pernah ngerantau ke Jakarta – sempat menjadi sopir selama beberapa tahun, tapi entah mengapa kemudian dia kembali kekampung, berita terakhir, saat ini menjabar sebagai ketua RT disana dan buka usaha ternak ayam; dan satu lagi sohibku Fadilah, sekarang kerja disalah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di Bangka, sebagai tenaga akunting sesuai latar belakangnya, dia sempat kuliah di Diploma 3 salah satu Akademi Akuntansi di Bandung)  kami sering ditunjuk menjadi perwakilan sekolah di ajang cerdas-cermat tingkat kecamatan. Bukan nyombong, kami bahkan masuk sampai ke babak grand final waktu itu kami berhadapan dengan sekolah-sekolah favorit yang berada dikota kecamatan seperti SD Regina Pacis dan SD teladan (SD 9). Dan kami ada diperingkat kedua.

MEWAKILI SEKOLAH PADA PEMILIHAN SISWA TELADAN

<a href=”http://depacco.com/pages/index.php?refid=manto70” ><img src=”http://depacco.com/pages/images/468×602.gif” border=”0″ alt=”Depacco.com”></a>

Pada saat naik ke kelas enam, sebagai sekolah baru sekolah kami juga mencoba menajajal pamornya dengan mengikuti beberapa kompetisi yang dilakukan baik oleh diknas (waktu itu sih namanya masih Depdikbud… menterinya masih Prof. Dr. Daud Yusuf) maupun oleh pemda. Jadi sekolah kamipun tidak mau ketinggalan untuk ikut ambil bagian di dalamnya. Aku terpilih mewakili SDN Tanjung Binga 2. Ada lebih dari 50 sekolah se kecamatan Tanjung Pandan yang berpartisipasi, dan aku merasa sangat tertekan dengan kondisi itu, abis kita kan orang kampung mana mungkin bisa berkompetisi dan menang karena yang dihadapi orang-orang kota yang usia sekolah, pengalaman kesertaannya, fasilitas pendukung belajarnya sudah sangat lengkap bila dibanding sekolah kampung kami. Dan hasil akhirnya pun sudah bisa ditebak … kami tidak menang … hanya ada dalam lingkungan 10 besar tepatnya waktu itu ada di Ranking 9 dari sekian puluh peserta. Teman perempuan yang menjadi perwakilan SD kami, Royani, dia diperingkat 12. Royani nikah di usia muda selepas menamatkan SMP-nya dia langsung dilamar pacaranya, mereka menikah dan telah dikaruniai beberapa anak. Sekira tidak salah menghitung mungkin saat ini usia anaknya sudah belasan tahun, sebab salah satu teman dekat kami Jumiati, dulu dia atlit lari pendek dan lari jarak jauh perwakilan sekolah kami jika ada event-event olah raga, dia sering menjadi langganan juara, bahkan sempat dikirim ke Palembang untuk mewakili kabupaten Belitung (sebelum menjadi propinsi kepulauan Bangka-Belitung saat ini). Dia juga nikah muda dan saya yakin anak-anaknya sudah besar-besar sekarang (bisa jadi sudah menikah juga salah satu anaknya).

Hello NAME,

I want to tell you about a great site I found. They pay me to read e-mail,
visit web sites and much more.

It’s free to join and easy to sign up! CLICK THIS
LINK TO VISIT: http://depacco.com/pages/index.php?refid=manto70

Sambungan 1 .. PANEN LADA PERTAMA >>>>

IBU KAMI BERJIWA PETANI TULEN

….BAPAK … NELAYAN SEJATI

Wah…. sorry bangat … tulisan ini agak lama tidak tersentuh … maklum ada  kesibukan-kesibukan yang membuatnya (tulisan ini) sdikit terbengkalai …. entah seminggu atau bahkan sudah lebih dari sepuluh hari .. dari tulisan terakhir, baru sempat lagi melanjutkan tulisan ini.

Secuil gambaran kondisi kehidupan masyarakat dikampung kami sempat penulis sampaikan, sebenarnya gambaran tersebut tidak mewakili keseluruhan Kehidupan Sosial Masyarakat Pulau Belitong, gambaran tersebut semata berdasarkan apa yang terlihat dan teralami sendiri oleh penulis. Selain musim Barat (angin laut yang menimbulkan gelombang besar) sehingga nelayan tidak banyak yang berani melaut… sekalipun melaut mereka hanya melaut dipinggiran saja, tidak ada yang berani melaut sampai keluar teluk disekitar perkampungan. Jika biasanya mereka melaut cukup jauh meninggalkan pulau — tentu hasilnya pun lumayan juga … ikan-ikan yang diambil biasanya ikan-ikan tertentu dengan ukuran-ukuran yang istimewa sementara dimusim angin barat … ikan-ikan kecil yang biasanya tidak disentuh, sekarang …. mereka bisa jadi rebutan, maksudnya nelayan-nelayan dikampung kami tidak akan membiarkan  ikan-ikan kecil sekalipun, mereka akan menangkapnya bukan semata untuk kebutuhan makan sehari-hari bahkan kegiatan itu menjadi matapencaharian, terutam bagi merekayang memang tidak memiliki alternatif untuk menyokong kehidupan rumah tangganya.

Mancing bejaoran, mukat, neritip, ngenderik, mancing bebulus adalah jenis-jenis aktifitas nelayan kampung kami dimusim angin barat. Waktu berumur antara sembilan dan sepuluh dulu, berama sahabat-sahabat; Sukanda (alm) — saya sering sekali memafaatkan moment musim angin barat ini untuk bersuka ria .. kami sering menikmati kencangnya angin dan besarnya ombak sambil memukat ketam (kepiting rajungan bahasa kerennya) terutama diwaktu liburan sekolah atau kadang selepas pulang sekolah sampai menjelang magrib. Sungguh kegiatan serupa ini akan senantiasa jadi kenangan terindah, terutama dari setiap kali mukat ketam ini kami tidak pernah mendapat hasil memuaskan. paling-paling lima sampai sepuluh ekor … itupun kalo hokinya sedang in… tapi saat hoki kami sedang resek … dapat seekor saja rasanya sudah luar biasa. hanya saja kesenangan yang kami dapat tidak terukur dari berapa banyak hasil memukat ketam yang kami bawa pulang. Berenang sambil berteriak-teriak, membelah ombak yang tingginya bisa menenggelamkan menjadi kesenangan yang tidak bisa terganti oleh apapun.

Sebagai anak-anak yang tinggal diperkampungan nelayan … bermain dengan ombak bukan soal yang aneh .. bagi sebagian kegiatan serupa ini adalah kehidupan mereka …. berbeda dengan kami-kami … maklum orang tua kami baik Ibu (Umak) maupun Bapak nampaknya … mereka sangat tidak menginginkan kami menjadi pelanjut profesi mereka, maka mereka sekolahkan kami …. walau tidak pernah mereka  cetus secara terbuka … rasanya asumsi tadi tidak terlalu meleset,…. saya meresakan sendiri, tidak banyak  aktifitas kenelayanan yang biasa dilakukan Bapak kami yang dia tularkan agar kami kelak mampu meneruskan kemampuan-kemampuan khusus yang mereka miliki. Sungguh, saya merasa sangat awam sekali dengan profesi Bapak kami, sekali-sekali saya disertakan melaut, tapi sampai ditengah lautan saya tidak pernah bisa melawan rasa kantuk yang mendera kelopak mata, belum sempat menjulurkan umpan pada tali pancing — mata dan tubuh sudah meminta sesuatu … tidur adalah jawabannya, ikut Bapak melaut = pindah tempat tidur. Apalagi diatas perahu suasananya begitu menakjubkan, perahu diayun oleh ombak sementara taburan ribuan bintang menjadi atapnya … indah bukan?? Sungguh memanjakan… tidur nyenyak…pulas … baru dibangunkan pagi-pagi ketika Bapak sudah siap-siap pulang.

Sebagai seorang anak yang tinggal diperkampungan nelayan …. rasanya tidak pas kalau tidak memiliki satu kenangan indah pada masa kanak-kanak selayaknya yang dimiliki anak-anak lain di kampung kami. Mukat ketam yang kami lakukan seusai sekolah … walau kadang tanpa izin orang tua … merupakan petualangan kecil kami sebagai anak-anak nelayan. Seperti dikemukakan tadi, bukan hasil yang jadi tujuan kami, kesenangan bermain ombak nampaknya jadi naluri mengalir dalam darah kami sebagai anak nelayan.

Mancing bejaoran adalah kesenangan lain, dan Zuno (Suyono) jagonya. Teman yang satu ini sangat handal …. kalau saya mancing barengan dia …. bisa dipastikan dia dapat seambong (sebutan untuk wadah penampung hasil pancingan) dan saya dapat sebuntut (maksudnya buntut ambong itu tidak pernah hilang) masalahnya saya tidak bisa menyaingi perolehan Zuno. Mancing bejaoran biasanya kami lakukan kalau air laut surut jauh meninggalkan landasan pantai, biasanya bisa sampai dua sampai tiga ratus meter dari bibir pantai sampai ketebing karang laut yang menjadi pemecah ombak sebelum menyentuh pantai. Jika tidak mancing bejaoran kami bersama sejumlah keluarga nelayan lainnya, mengumpulkan kimak, kimpang, dare malayang atau nyarik pensian (sejenis moluska dengan bentuk menyerupai tiram mutiara)… mengasyikkan.  

sambungan …. PANEN LADA..

RABU, 7 MEI 2008

Singkong, ubi, talas  dan beberapa jenis palawija seperti kacang-kacangan, termasuk lada menjadi hasil utama perkebunan di kampung kami. Hasil perkebunan seperti inilah yang menghidupi kebanyakan masyarakat nelayan kampung kami selama musim pancaroba. Kehidupan berkebun kami jalani selama beberapa bulan biasanya antara november sampai pertengahan maret – perkampungan relatif sepi, karena masyarakat banyak beraktifitas diladang atau dikebun mereka – kakek kami sesekali melaut, sekedar mencari lauk pauk untuk menemani makan singkong rebus – setelah beras tidak terbeli lagi – kejadian seperti ini rutin setiap tahun, pemandangan serupa banyak ditemui diwilayah-wilayah perkampungan nelayan.

Kalau musim barat ini berkepanjangan, amunisi-amunisi terakhir keluar, ikan asin sisa ikan yang tidak terjual pada musim melaut akhirnya harus keluar juga, pucuk daun singkong, sambal terasi menjadi menu utama. Meski demikian makan dalam kondisi seperti itu biasanya terasa nikmat luar biasa. Ikan pedak dimasak berampai, campuran berbagai jenis sayuran yang dibumbu seperti memasak gangan dengan komposisi kunyit tidak sebanyak bumbu gangan sehingga kuahnya nampak agak bening, disajikan dalam keadaan masih hangat untuk menimpali rebus menggale (singkong) atau aruk gelagau (potongan singkong yang telh direndam selama dua atau tiga hari, setelah ditiriskan airnya sebagian bisa diambil untuk dimasak (gelagau) dan sebagian dijemur menjadi rap menggale (tapioka)). Musim barat di desa kami biasanya ditandai dengan turun hujan sepanjang hari selama berbulan-bulan, anginnya bertiup lebih kencang disertai petir yang menyambar-nyambar. Sebelum turun hujan, awan gelap nampak menggelayuti langit agak sulit untuk melihat matahari bersinar … ya, itu … pertanda musim barat akan berlangsung lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak jarang kami menghadapi kondisi-kondisi mencekam karena hujan deras disertai hembusan angin yang tak ubah mesin kocokan besar, berputar kesana-kemari menerbangkan daun-daun pohon. Tak akan ada orang keluar rumah pada kejadian-kejadian menghebohkan seperti itu. Disisi lain, hutan kami mulai menghijau kembali … seperti permainan sulap, beberapa bulan sebelumnya panas panjang membuat dedaunan menguning dan rontok, rumput-rumput dan ilalang dipadang-padang bekas perkebunan sementara nampak meranggas atau bahkan layu dan mati, sehingga memudahkan terjadinya kebakaran hutan, dasar hutan menjadi lembab, sisa dedaunan yang berguguran menjadi nutrisi bagi area yang sebelumnya kering kerontang. Tanah yang bernutrisi tinggi mengundang berbagai mahluk untuk memanfaatkannya. Rayap-rayap segera mengumpulkan tanah liat basah untuk memperkokoh sarang-sarang mereka yang sebelumnya sempat rapuh….begitupun mahluk-mahluk mungil lainnya, mereka saling berbagi kemamfaatan. Burung-burungpun tak ketinggalan meramaikan seisi hutan dengan kicauan mereka yang khas. Burung berebak biasanya paling aktif – mereka berloncatan kesana kemari, sulit dipahami apa sebenarnya yang membuat mereka keranjingan. Beberapa kejadian .. yang tertangkap penglihatan, kicauan itu digunakan sebagai pertanda bahaya yang disampaikannya kepada teman-teman terutama karena kehadiran ular-ular berwarna hijau dibeberapa ranting pohon. Atau tampak ada kesibukan luar biasa – mereka (burung berebak ini berkumpul dengan kawanannya dengan jumlah puluhan) nampaknya mereka sedang menikmati perhelatan dipesta perkawinan salah dua ekor temannya. Sudahlah kita tinggalkan saja berebak-berebak itu – kita akan lihat kembali ke dasar hutan, dibawah rindang pepohonan tidak jarang ditemui barisan panjang dan memutih kulat pelandok. Pemandangan ini sangat menarik terutama bagi pencari kulat (sejenis jamur), termasuk nenek kami, beliau cukup mahir berburu kulat pelandok ini, hasilnya, tentu saja menjadi salah satu menu andalan di musim barat. Cukup direbus ditambah beberapa irisan bawang merah dan masukkan beberapa cabe rawit merah, berkuah … nikmat … nikmat sekali … sungguh masakan yang menyehatkan. Sungguh Allah swt maha adil … tidak dibiarkan-Nya kami kelaparan meski beras tidak terbeli … tetapi ada banyak sekali makanan pengganti dengan kualitas yang setara dan bisa jadi lebih baik sekalipun kakek atau orang tua kami tidak melaut sebagaimana profesi mereka sebagai nelayan.

Tanaman-tanaman pohon buahpun seringnya berbuah lebat di musim barat ini. Seperti Durian, jambu, rambutan, manggis, cempedak, buah langsat (duku), sengaja Allah swt perbuahkan mereka diwaktu ini. Maaf, tidak bisa beli beras, yang saya maksud disini tidak semata karena kami kekurangan dalam hal keuangan, uang bisa jadi ada – karena ada aktifitas jual beli untuk menghasilkan uang walau tidak seberapa, seperti jual hasil panen singkong, pisang, durian, rambutan … semua itu bisa menghasilkan uang, Nah yang jadi persoalannya … pulau kami “Belitong” tidak mampu menghidupkan persawahan sehingga bisa menghasilkan beras, paling tidak untuk memenuhi konsumsi sekian puluh ribu penduduknya, Kapal-kapal barang yang biasanya berlayar membawa barang-barang kebutuhan pulau kami tidak ada yang berani untuk menentang ombak dengan ketinggian di atas tiga meter, kecuali nekad dan sengaja cari mati. Otomatis stok beras di gudang dolog menipis, distribusinya dapat dipastikan tidak untuk kekampung-kampung yang diutamakan tetapi mereka memilih mengamankan peru-perut mereka sendiri – orang-orang yang berpenghidupan agak di atas rata-rata, orang-orang kota ini jauh lebih aman, karena mereka dekat aksesnya ke gudang beras tersebut (dolog=depot logistik).

Sekali lagi keadilan yang Allah swt tunjukkan kepada kami menjadi bukti agar kita terutama keluargaku senantiasanya menjadi orang-orangg yang pandai bersyukur – tidak kufur terhadap banyaknya nikmat yang telah Dia beri selama ini.  

 

PANEN LADA PERTAMA MEMBIAYAI KULIAHKU

1.KELUARGAKU-2.KELUARGAKU-3.KELUARGAKU

1. KELUARGAKU

Keluarga kami,…aku tidak paham benar dari mana silsilah keluarga ini bermula, tapi setidaknya aku masih sempat kenal dengan kakek dan nenek buyutku sebelum mereka meninggal di usiaku yang relatif sudah dewasa. Waktu itu aku sedah dikelas 1 SMA ketika nenek buyutku meninggal. Tak banyak kesedihan yang aku rasakan — walaupun sehari-hari aku cukup dekat dengan beliau tapi tidak terlalu banyak yang kupahami siapa dan bagaimana buyut-buyutku itu sepenuhnya.

Dalam struktur sosial kemasyarakatan – keluarga kami tidak tergolong kelompok berada dipandang dari sisi materi, tidak juga dipandang sebagai kelompok keluarga yang patut mendapat penghormatan lebih, selayaknya penghormatan biasa ditujukan kepada kelompok alim ulama (para lebai) dan para guru. Kedua kelompok ini memang pantas mendapatkannya karena mereka banyak memberikan panutan sebagai petunjuk nyata bagi kemaslahatan kehidupan bermasyarakat di desa kami. Kelas terakhir yang banyak mendapat penghormatan adalah para petinggi adat dan birokrat disana. Pemangku adat biasanya disimbolkan pada eksistensi seorang dukun kampung dan seorang dukun beranak (nek pengguling) – mereka disegani – atau dihormati – mungkin juga ditakuti – karena ada embel-embel sebutan dukun pada profesi yang mereka tanggungjawabi.

Sebenarnya, seorang dukun kampung tak lebih dari seseorang yang karena garis keturunannya atau bisa jadi karena kedigjayaan yang dimilikinya maka dia dianggap pantas dijadikan sebagai seorang yang dituakan terutama pada persoalan-persoalan adat yang terhubung pada masalah-masalah mistis dan magis. Menghadapi tipe persoalan ini…beliau adalah bemfer (tameng/pelindung) dalam persepsi adat orang-orang didesa kami. Beliau dituakan — karena umur rata-rata para dukun ini biasanya sudah sangat uzur dan tahtanya tak tergantikan sepanjang hayat. Artinya akan ada dukun kampung yang baru setelah dipastikan dukun kampung lama sudah meninggal. Atau mungkin digantikan apabila yang bersangkutan mengalami persoalan-persoalan berat dan bersifat pribadi sehingga secara sadar yang bersangkutan menyatakan pengunduran dirinya dan meminta agar digantikan oleh orang lain yang beliau tunjuk dan bisa juga sebagai hasil sebuah musyawarah dari sekelompok orang-orang berilmu!! yang ada didesa kami.

Satu lagi, sebutan dukun melekat pada seorang yang dia memproklamirkan dirinya – proklamasi ini kemudian diamini oleh warga dan petinggi desa, proklamasi sebagai nek pengguling (dukun beranak) — tidak banyak orang yang menginginkan profesi ini. Sebagian besar merasa takut, tentu dengan berbagai alasan seperti; belum ada panggilan jiwa (seperti halnya statement orang yang akan berangkat ke haji), mereka merasa siap untuk menekuni profesi ini seketika ada panggilan dari dalam dirinya. Alasan kurangnya pengetahuan tidak menjadi kategori alasan mengapa tidak banyak orang atau tidak sembarang orang mau mengambil resiko berprofesi sebagai nek pengguling ini.

Kecenderungan yang memegang tampuk kekuasaan ini — juga berasal dari kelompok usia orang-orang yang sudah uzur (nenek-nenek).

Nampaknya, persoalan privasi – bisa menjadi secuil alasan kurang diminatinya profesi satu ini. Bayangkan, kampung atau desa kami waktu itu saja populasinya sudah mendekati angka 2000-an, untuk ukuran desa terpencil jumlah itu tidak sedikit, dengar-dengar sekarang ini populasinya sudah hampir 6000-an, artinya tingkat pertumbuhan penduduk didesa kami lumayan pesat. Jika dalam sebulan ada satu pernikahan, setahun terdapat dua belas pasangan rumah tangga baru. Setahun kemudian, setidaknya (70 sampai dengan 80)% dari jumlah pasangan ini akan melahirkan anak-anak mereka.

Kira-kira siapa orangnya yang akan rela dan dengan penuh suka cita mengambil resiko untuk memproklamirkan dirinya sebagai nek pengguling tadi, sudah harus terbayangkan…pekerjaan semacam apa yang akan dihadapinya….bukan sekedar sebagai penyaksi atas kelahiran bayi suci dari setiap pasangan baru….. maaf saya lupa memperhitungkan… kelahiran yang mungkin terjadi dalam setahun berasal dari pasangan keluarga yang tidak baru lagi.

Di kampung kami sedikit sekali jumlah keluarga; .. jarang …jarang sekali … ada; sebuah bentukan rumah tangga yang anak-anak dari hasil pernikannya hanya satu atau dua. Setiap rumah rata-rata memiliki lima sampai enam orang anak, ini lazim, biasa, umum, lumrah…. bukan karena program pemerintah “KB” tidak sampai ke sana, juga bukan karena ibu-ibu atau bapak-bapaknya tidak pernah mendapatkan penyuluhan bagaimana keluarga sejahtera, semua itu sudah mereka terima. Bahkan setahun bisa jadi dilakukan beberapa kali penyuluhan, ada tim dari desa, kecamatan, kabupaten, provinsi dan bahkan sampai pada skala nasional pernah datang dan ada yang secara rutin memberikan penyuluhannya. Dan hasilnya,… dari tahun ke tahun tidak terlalu jauh perbedaannya. Bukan gagal, tapi belum berhasil.

Nah jika dihitung-hitung, misal dari penduduk yang tadi jumlahnya 2000-an itu, usia produktifnya berjumlah 500 saja (laki-laki + perempuan) , dan yang berkeluarga separohnya dikurangi 10% (ini sih rumus kira-kira, kalau ada minat untuk menghitungnya secara eksak nanti saya rekomendasikan untuk datang ke sana sehingga kita dapat angka realnya).

Tadi, separoh dari 500 adalah 250, kemudian jumlah ini dikurangi 25 (10% tadi itu), kita dapatkan angka 225 orang. Karena dalam bentuk pasangan , angka 225 ini kan ganjil jadi kalau kita pasangkan jumlahnya menjadi tidfak pas, untuk menggenapkannya bolehlah kita tambahin 1 sehingga jumlahnya menjadi 226 nah angka ini jadi enak kalau dibagi dua untuk menunjukkan banyaknya jumlah pasangan (226 : 2 = 113); wah angka kira-kiranya lumayan fantastis juga ya. Bagaimana tidak, coba perhatikan andai 10% dari jumlah pasangan produktif ini ternyata hamil bersamaan dalam waktu setahun, ada tambahan kelahiran sebanyak 11,3 kelahiran baru, jadi jumlah totalnya; perkiraan maksimal: 8 +11,3 =19,3 kelahiran setahun, sedangkan minimalnya:7+11,3 =18,3 kelahiran yang harus dihadapinya (nek pengguling). Nampaknya cukup masuk akal, mengapa hanya orang-orang yang mendapatkan panggilan saja yang siap untuk menceburkan dirinya dalam profesi mulia ini …. membantu kelahiran …. turut jadi penyaksi antara perjuangan untuk bertahan hidup dan kesiapan untuk dijemput ajalnya.

Jangan ditanya berapa bayaran yang mereka terima, ucapan terima kasih… adalah upah yang paling lazim beliau peroleh. Tidak ada tarif, tidak ada biaya ini itu, terkecuali setelah datang bidan desa. Nek pengguling bukan pekerja profesi yang setelah mereka menyelesaikan tugas-tugasnya – akan bersegera mengeluarkan kuitansi, nota atau apalah namanya yang berisi catatan jumlah pembiayaan yang harus dikeluarkan pasangan yang berbahagia karena kelahiran bayi mereka. Tidak sampai disana saja, beliaupun turut merawat ibu dan bayi ini sampai kondisinya stabil dan aman. Nek pengguling akan memberikan ramuan-ramuan akar kayu untuk diminum sang ibu, kalau kita dekati dari sudut pandang medik, jenis akar kayu yang diberikan ini harus berasal dari akar kayu pohon-pohon tertentu saja (bukan sembarang akar), pohon-pohon tersebut memiliki agar bergetah, sekira ada peneliti berminat melakukan riset ini bisa menjadi proyek yang cukup spektakuler.

Getah dari akar pohon ini tidak langsung digunakan, tetapi sudah melalui proses dengan rentang waktu panjang. Mendapatkan akar kayu tersebut harus didahului dengan keluar masuk hutan yang masih rimba, sekedar menemukan pohon yang dimaksud, setelah mendapatkannya beliau harus keluar dari hutan dengan membawa se-ambong (ambong: nama sejenis bakul yang digunakan untuk membawa barang-barang perlengkapan berkebun, terbuat dari anyaman bambu atau rotan dan dipanggul pada punggung) akar kayu tadi, coba pikir, apa yang terjadi sekira setelah mendapat akar kayu nek pengguling ini tidak keluar lagi dari hutan!! intermezzo!! bisa jadi anak-anak yang akan dilahirkan mereka meminta perpanjangan waktu untuk nginap diperut ibunya, kasihankan ke ibunya termasuk kasihan juga kepada bapaknya.

Oke… begini, akar-akar kayu tadi segera diolah, pertama-tama, dicuci bersih lalu di potong-potong dan proses lanjutannya yang panjang adalah menjemur potongan akar-akar tadi menggunakan sinar matahri murni tanpa rekayasa (maksudnya: harus benar-benar dijemur dan disinari oleh matahari secara langsung) lamanya bisa memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan sampai akar itu benar-benar layu dan getah yang dimaksud tadi terperangkap pada pori-pori kayu; kemanfaatannya baru dirasakan setelah akar kayu kering tadi diseduh, disajikan secara khusus untuk kepentingan sang ibu pasca melahirkan (SERUPA OBAT MEDIK: ANTIBIOTIK dan SEJENISNYA) yang memang hanya diberikan secara khusus kepada ibu-ibu yang baru selesai melahirkan.

Dan paparan di atas semata disampaikan — agar dapat dipahami, mengapa … beliau ini sang nek pengguling tersebut pantas mendapatkan penghormatan dari masyarakat, penghormatan yang tulus sebagai wujud rasa terimakasih mereka karena jasa yang besar dari pekerjaan tanpa pamrih yang dilakukanny selama ini;

Sementara itu, penghormatan kepada para birokrat nampak hanya sebuah kepura-puraan semata. Tidak ada ketulusan pada bentuk hormat yang diberi masyarkat kepada mereka… penyebabnya sederhana … masyarakat pun terlalu sering mendapatkan simpati dalam topeng kepura-puraan dari segenap aparat birokrat, formalitas … itu sebutan jelasnya.

minggu, 4 Mei 2008

Maaf baru sempat lagi untuk melanjutkan obrolan……

Beberapa waktu lalu kita sempat membincangkan term dukun dengan berbagai persepsi terhadapnya.. ada yang alergi, ada pula yang merasakan kemanfaatan atas kehadirannya.
Ya sudahlah, yang beberapa waktu lalu saya sampaikan disini semata untuk memberi bahan banding sebagai bekal untuk mengidentifikasi serupa apa sebanarnya keluargaku ini. Kami tidak begitu dihormati, tidak ditakuti, tidak disegani dan masih banyak tidak … tidak dan tidak lainnya. Tapi bagi saya justru ini menjadi salah satu modal penting sebagai titik keberangkatan untuk menemukan warna baru, membuat citra, membangun cinta, dan meninggikan karya.
Kami empat bersaudara, semua laki-laki, orang tua kami tidak diamanahi anak perempuan. Kondisi serupa ini menjadi tidak yang lainnya tadi … yaitu tidak mudah bagi kedua orang tua kami untuk mendidik dan mendewasakan keempat putera mereka.
Jauh sebelum aku, anak pertama, dilahirkan …. ceritanya begini … waktu itu desa kami masih berupa kampung yang sepi…sepi sekali…menjelang malam tepatnya saat maghrib tiba tidak mudah mendapati orang-orang diluar rumah apa lagi dijalanan yang waktu itu kondisinya masih gelap gulita, tanpa ad penerangan,….seingat saya listrik masuk ke desa kami sekitar tahun 80-an entah 80 berapa tepatnya, itupun hasil swadaya masyarakat. Jadi, jauh sebelum itu di tahun 60-an terakhir, selepas sholat maghrib, suatu keanehan terjadi, tiba-tiba dari arah jendela yang pada waktu itu masih belum terkunci dilemparkan tiga helai baju dengan desain khusus baju anak perempuan, diusia sepuluhan nenek pernah memperlihatkan ketiganya langsung ke saya, tiga potong dengan model yang tidak jauh berbeda tetapi warnanya berlainan dan mencolok, kuning, putih dan merah masing-masing berenda cantik-cantik sekali ketiga-tiganya. Waktu itu nenek menuturkan, dia merasa baju itu sebagai suatu pertanda, tetapi beliau tidak pernah bererita lengkap mengenai pertanda apa sebenarnya yang beliau maksudkan,…terkecuali sesekali saya sering mendapati nenek memasang dupa sekita dupa terbakar dan asap mengepul berbarengan dengan aroma khas … beliau mengeluarkan ketiganya (baju anak perempuan tadi) selanjutnya asap dan baju-baju tadi seolah-olah menyatu. Tidak begitu jelas, apakah itu semacam ritual atau sekedar mengganti aroma apek karena lembab, maklumlah dizaman itu belum ada lemari-lemari besar kokoh tempat penyimpanan pakaian seperti pada jaman ini. Hanya saja, saya tidak begitu yakin itu yang menjadi tujuannya, sama halnya dengan ketidak yakinan bahwa itu menjadi salah satu bentuk ritual yang dikhususkan atas ketiga baju itu.

Kakek dan Nenek Buyutku terkategori manusia langka, usia mereka lumayan panjang rata-rata di atas 90 tahunan, ceritanya sih mereka termasuk kelompok orang-orang yang berilmu kanuragan tinggi, jadi banyak sekali pantangan-pantangan yang mengikat dan harus mereka jalankan, ini juga cuma dapat dengar-dengar dari orang lain – tidak ada alat bukti kuat untuk membenarkan atau menyalahkan itu semua, satu hal yang pasti terkait dengan usia mereka tadi, itu adalah kenyataan.
Kakek-Nenek buyutku ini dikaruniai dua anak, kakek kami adalah anak bungsu dari dua bersaudara, dan saudaranya laki-laki juga, kami memanggilnya Kik Long (Panggilan khas untuk setiap anak pertama di desa kami biasanya disebut dengan istilah itu, long, pak long (untuk anak laki-laki pertama), mak long (untuk anak perempuan pertama). Sedang anak paling bontot atau anak terakhir dipanggil busu (pak busu, kik busu, mak busu, nek busu). Kakek dan Nenek kami diamanati seorang anak, bapak kami anak tunggal, dia tidak memiliki saudara kandung, apakah dia tidak beruntung? atau dia sangat beruntung? Mungkin keduanya tidak menjadi pertanyaan penting… tepatnya tidak perlu penjelasan atas keduanya. Setelah menikahi ibu kami, beberapa tahun kemudian, sekitar dua atau tiga tahun dari hari pertama pernikahan mereka aku dilahirkan, tiga tahun kemudian lahir adik kedua, lima tahun umurku aku mendapatkan adik yang kedua dan pada saat aku duduk dikelas dua Sekolah Dasar waktu itu umur ku sudah 10 lahir adik terakhirku, kami semua laki-laki.

Penghidupan kakek dan nenek kami tergolong pada penghidupan yang lumayan, tidak sulit secara ekonomi dan tidak juga berlebihan. Kakek kami nelayan, seorang nelayan tulen. Istrinya yang menjadi nenek kami seorang perempuan rumahan, istimewanya beliau pintar masak. Dirumah panggungnya, nenek menghabiskan kesehariannya. Sesekali beliau juga berangkat ke kebun – berkebun mereka lakukan sebagai cadangan untuk menanggulangi masa-masa sulit sepanjang musim barat atau musim panca roba disaat-saat kakek kami tidak bisa berangkat melaut. Musim barat, ditandai dengan angin laut bertiup kencang dan hujan deras sepanjang hari, diwaktu itu para nelayan tidak berangkat ke laut, otomatis keperluan rumah tangga harus diganjal dari hasil kebun.

MATEMATIKA SEHARI-HARI

MATEMATIKA DALAM KEHIDUPAN

Mengajarkan matematika kepada anak biasanya menjadi salah satu pekerjaan berat yang dihadapi orang tua, terutam menjelang anak-anaknya memasuki sekolah-sekolah formal mereka. Ini adalah fakta….karena banyak sekali keluhan terdengar berkait kepada sebutan matematika ini.

Sederhananya, matematika sering juga kita sebut dengan ilmu berhitung. Kepandaian berhitung pada seorang anak terukur ketika dia mulai mengenai nama-nama angka ataui simbol-simbolnya. Cara termudah yang digunakan pengajar matematika modern saat ini adalah membenamkan anak pada dua kondisi tersebut. Tentu saja ada anak yang bisa mengikutinya dengan mudah sekali atau ada juga yang merasa sulit dan akhirnya mereka kehilangan selera terhadap term Matematika ini.

Kehidupan kita sehari-hari sebetulnya tidak lepas dari matematika… mulai pagi sejak kita bangun sampai larut malam ketika kita berangkat ke peraduan …. matematika selalu menemani. Singkatnya, mengenalkan … saya gunakan kita “mengenalkan” matematika kepada anak, bukan mengajarkan, dapat kita lakukan melalui aktifitas keseharian. Tidak usah ada paksaan semua bisa dijalankan natural.

Contoh kecil, anak dibiasakan membereskan tempat tidur mereka, menyusun bantal (mereka harus mengelompokkan jenis bantal berdasarkan ukuran dan bentuk) agar tempat tidur mereka nampak rapih, melipat selimut …. itu juga matematika (geometri) bahkan sampai ke matematika tingkat tinggipun dapat kita kenalkan kepada anak sejak usia dini.

Kami, meminta anak kami “Hanif” 3 tahun, untuk berbelanja — membeli beberapa keperluan untuk di dapur, — awalnya kami lengkapi dia dengan catatan kecil berisi item-item yang harus dibelinya + uang belanja sejumlah nilai belanja yang harus dibawanya pulang. Dia enjoy …. karena aktifitas tersebut dirasanya seperti sedang bermain dan sekaligus menjadi “his new experiences”.

Anda punya pengalaman lain??

Berdagang “Jualan” juga salah satu aktifitas ekonomi yang tidak lepas dari matematika —“Faqih” dia belajr menawarkan suatu produk kepada orang-orang disekelilingnya, beberapa diantaranya orang baru yang dia tidak begitu kenal. Untuk menawarkan produknya dia harus mampu mengkomuniksikan apa yang kan ditawarkannya, disana dia juga mempelajari berapa jumlah keuntungan yang akan diperolehnya dari suatu transaksi yang terjadi.

Matematika is fun…..

Bawa Angin di dalam Perut

Bawa Angin di dalam Perut

Bagi sebagian orang kemasukan angin dapat berdampak buruk, terutama pada saat kondisi fisiknya kurang fit. Tentu saja cara terampuh untuk keluar dari cengkraman sang angin … diperlukan teknologi sederhana agar angin yang bersemayam disana dapat disingkirkan sesegera mungkin. Ada kerokan, urut, pijat bahkan menelan berbagai obat penawar yang di harapkan mampu memberikan dorongan kuat kepada sang angin agar dia keluar dari dalam sana walaupun hanya melalui celah sempit.

Itu sekelimut kisah .. betapa tidak nyaman kemasakan angin.

Tentu akan berbeda jika angin itu dimasukan….. setuju!!! (Ide baru) belum pernah dicobakan — jika berminat bisa anda buktikan … bagaimana hasilnya … saya nantikan penjelan lengkap anda!!

Si Buta Mencari Duit

Bersyukur pada saat ini saya masih diberikan penglihatan sehingga satu demi satu huruf-huruf pad keyboard dapat terangkai membentuk kata kemudian menjadi kalimat, paragraf dan seterusnya. Ada banyak warna menarik yang mengitari disekeliling bahkan setiap pergantian hari – siang – malam – pagi – siang -sore , semua nampak jelas. Betapa banyak yang harus saya/qta syukuri — semua itu kenikmatan yang banyak (berlimpah) bagi saya dan qta.

meski demikian, ada juga saudara kita yang tidak mendapatkan apa-apa yang baru saja saya ungkap diatas. Bahkan dia hampir tidak bisa mengenali arah kemana dia harus menuju agar bisa sampai ke rumahnya.

Dalam satu atau dua hal, sebenarnya antara kita dan saudara kita ini tidak ada perbedaan yang mendasar, toch yang nggak ngeliat itu hanya mata fisiknya saja…. tapi mata hatinya belum tentu (terkadang mereka jauh lebih melek dibanding orang/qta yang mata fisiknya nampak berbinar).

Buta mata fisik atau buta mata hati ?? (bukan pilihan).

Pengen kita sih … ketika mata fisik melek mata hati bisa lebih melek lagi….

Pernah melihat orang buta menemukan duit??

Bagaimana reaksi seorang yang melek jika dihadapannya tertumpuk uang bermiliar-miliar??