Category Archives: No Idea

sleep and just dream

RENTAL BUBAR

BISNIS ITU…. ADA PASANG ADA JUGA SURUTNYA.

Setelah hampir 13 tahun kami merintis usaha …. sekarang ditahun ke 14 semuanya harus berakhir. Penyebabnya relatif sangat sederhana, Pertama usaha yang kami jalankan menempati rumah kontrakan bukan rumah miliki pribadi kami; Kedua, Keuntungan yang kami dapat tidak mampu lagi menyokong jalannya usaha seiring dengan beban ekonomi yang makin tidak bisa diprediksi; Ketiga, TIngkat kedewasaan kami dalam bebisnis nampaknya masih memerlukan pelajaran kedewasaan lebih banyak lagi.

Walau usaha kami harus berakhir ditahun ini, tepatnya Agustus 2008 (kami pertama merintis usaha ini sekitar Februari 1995 lalu, sudah cukup banyak pengalaman dan hasil kami peroleh selama waktu itu. Terutama, saya dan adik-adik bisa menyelesaikan kuliah kami ditingkat sarjana. Kemudian saya dan adik nomor dua beristri juga dengan latarbelakang usaha tersebut diantaranya.

Ketika sang empunya rumah menyatakan mau mengambil haknya kembali ….. setelah kami mengontrak rumahnya selama lebih dari 13 tahun, tentu dalam hati kami ada sedikit kekecewaan karena kami baru saja mengembangkan usaha baru kami dan sudah berjalan cukup baik. Kami tidak mungkin berbuat banyak, karena rumah yang kami tempati ini memang bukan hak kami, itu hak sang empunya rumah.

setelah 13 tahun ….. kami harus siap meninggalkan banyak hal yang akan menjadi kenangan dikelak kemudian hari.

setelah 13 tahun ….. kami mendapat tidak sedikit dari sini…

Setelah 13 tahun ……kami pernah memberi???

Setidaknya ada beberapa saudara yang sempat tinggal bersama kami — mereka belajar mengadu nasib ….

Mereka juga belajar …. belajar hidup ….. belajar tentang kehidupan.

Tetangga kami …. mereka beberapa kali sempat berkumpul bersama kami disini, lantaran beberapa anak mereka sempat tinggal bersama kami uuntuk melanjutkan kuliahnya disalah satu PT disini, di Bandung.

Kini bisnis yang sedang surut … harus mundur sampai pada titik nadir….

selamat tinggal sekeloa.

Selamat tinggal

Selamat.

 

GIMANA CARA BELAJAR YANG NYAMAN?

Langkah-langkah belajar yang nyaman adalah dengan mengetahui

  • diri sendiri
  • kemampuan belajar anda
  • proces yang berhasil anda gunakan, dan dibutuhkan
  • minat, dan pengetahuan atas mata pelajaran anda inginkan

Anda mungkin belajar fisika dengan mudah tetapi tidak bisa belajar tenis, atau sebaliknya. Belajar apapun, ada proses-proses untuk mencapai tahap-tahap tertentu.

Empat langkah untuk belajar.
Mulai dengan cetak halaman ini dan jawab pertanyan-pertanyaannya. Lalu rencanakan strategi anda dari jawaban-jawabanmu, dan dengan “Pedoman Belajar” yang lain.

Mulai dengan masa lalu 

 

Apakah pengalaman anda tentang cara belajar? Apakah andaWhat was your experience about how you learn? Did you

  • senang membaca? memecahkan masalah? menghafalkan? bercerita? menterjemah? berpidato?
  • mengetahui cara menringkas?
  • tanya dirimu sendiri tentang apa yang kamu pelajari?
  • meninjau kembali?
  • punya akses ke informasi dari banyak sumber?
  • menyukai ketenangan atau kelompok belajar?
  • memerlukan beberapa waktu belajar singkat atau satu yang panjang?

Apa kebiasaan belajar anda? Bagaimana tersusunnya? Yang mana terbaik? terburuk?

Bagaimana anda berkomunikasi dengan apa yang anda ketahui belajar paling baik? Melalui ujian tertulis, naskah, atau wawancara?

Teruskanke masa sekarang  Berminatkah anda?
Berapa banyak waktu saya ingin gunakan untuk belajar?
Apa yang bersaing dengan perhatian saya?Apakah keadaannya benar untuk meraih sukses?
Apa yang bisa saya kontrol, dan apa yang di luar kontrol saya?
Bisakah saya merubah kondisi ini menjadi sukses?

Apa yang mempengaruhi pembaktian anda terhadap pelajaran ini?

Apakah saya punya rencana? Apakah rencanaku mempertimbangkan pengalaman dan gaya belajar anda?

Pertimbangkan
proses,
persoalan utama
Apa judulnya?
Apa kunci kata yang menyolok?
Apakah saya mengerti?Apakah yang telah saya ketahui?
Apakah saya mengetahui pelajaran sejenis lainnya?

Sumber-sumber dan informasi yang mana bisa membantu saya?
Apakah saya mengandalkan satu sumber saja (contoh, buku)?
Apakah saya perlu mencari sumber-sumber yang lain?

Sewaktu saya belajar, apakah saya tanya diri sendiri jika saya mengerti?
Sebaiknya saya mempercepat atau memperlambat?
Jika saya tidak mengerti, apakah saya tanya kenapa?

Apakah saya berhenti dan meringkas?
Apakah saya berhenti dan bertanya jika ini logis?
Apakah saya berhenti dan mengevaluasi (setuju/tidak setuju)?

Apakah saya membutuhkan waktu untuk berpikir dan kembali lagi?
Apakah saya perlu mendiskusi dengan “pelajar-pelajar” lain untuk proces informasin lebih lanjut?
Apakah saya perlu mencari “para ahli”, guruku atau pustakawan atau ahliawan?

Buat
review
Apakah kerjaan saya benar?
Apakah bisa saya kerjakan lebih baik?
Apakah rencana saya serupa dengan “diri sendiri”?Apakah saya memilih kondisi yang benar?
Apakah saya meneruskannya; apakah saya disipline pada diri sendiri?

Apakah anda sukses?
Apakah anda merayakan kesuksesan anda?

Halaman ini digambarkan dari “metacognition”, istilah yang diciptakan oleh Flavell (1976), dan

MENGATUR JADWAL BELAJAR

– tip ini ditujukan bagi siswa/mahasiswa dalam mengatur jadwal belajar secara efektif –

Pengaturan Waktu adalah membuat dan melakukan jadwal belajar agar dapat mengatur dan memprioritaskan belajarmu dalam konteks membagi waktu dengan aktivitas, keluarga, dan lain-lain.

Pedoman:

Perhatikan waktumu.

Refleksikan bagaimana kamu menghabiskan waktumu.

Sadarilah kapan kamu menghabiskan waktumu dengan sia-sia.

Ketahuilah kapan kamu produktif.

Dengan mengetahui bagaimana kamu menghabiskan waktu dapat membantu untuk:

Membuat daftar “Kerjaan”. Tulislah hal-hal yang harus kamu kerjakan, kemudian putuskan apa yang dikerjakan sekarang, apa yang dikerjakan nanti, apa yang dikerjakan orang lain, dan apa yang bisa ditunda dulu pengerjaannya.

Membuat jadwal harian/mingguan. Catat janji temu, kelas dan pertemuan pada buku/tabel kronologis. Selalu mengetahui jadwal selama sehari, dan selalu pergi tidur dengan mengetahui kamu sudah siap untuk menyambut besok.

Merencanakan jadwal yang lebih panjang. Gunakan jadwal bulanan sehingga kamu selalu bisa merencanakan kegiatanmu lebih dulu. Jadwal ini juga bisa mengingatkanmu untuk membuat waktu luangmu dengan lebih nyaman.

Rencana Jadwal Belajar Efektif:

Beri waktu yang cukup untuk tidur, makan dan kegiatan hiburan.
Prioritaskan tugas-tugas.
Luangkan waktu untuk diskusi atau mengulang bahan sebelum kelas.
Atur waktu untuk mengulang langsung bahan pelajaran setelah kelas. Ingatlah bahwa kemungkinan terbesar untuk lupa terjadi dalam waktu 24 jam tanpa review.
Jadwalkan waktu 50 menit untuk setiap sesi belajar.
Pilih tempat yang nyaman (tidak mengganggu konsentrasi) untuk belajar.
Rencanakan juga “deadline”.
Jadwalkan waktu belajarmu sebanyak mungkin pada pagi/siang/sore hari.
Jadwalkan review bahan pelajaran mingguan.
Hati-hati, jangan sampai diperbudak oleh jadwalmu sendiri!

UMI…PENSIL SAYID DIMANA??

SAYID KEHILANGAN PENSIL !!

Pagi-pagi bangat … sehabis sholat subuh….umi langsung mengkondisikan anak-anak yang sudah sekolah untuk mengulang kembali pelajaran atau mempersiapkan pelajaran baru yang akan mereka hadapi.
Abang… biasanya mendapat tugas membaca dan A’a diwajiban untuk menulis atau mewarnai. O ya, A’a (Sayid, lengkapnya: Muhammad Nazlin Izzamul Sayid) anak kedua kami, dia masih di TK, Katanya sih sudah di TK B – tapi tiap kali saya tanya pelajarannya hari itu, dia tidak pernah bisa menjelaskan apa saja yang diajarkan ibu Dede (guru A’a)… bukan karena gurunya yang tidak mampu memberikan penjelasan atau menyampaikan bahan pengajarannya, sebabnya… Sayid sendiri memang tidak pernah doyan untuk mengikuti instruksi-instruksi gurunya. Umurnya sih sudah 5 tahun, tapi hobinya untuk main kejar-kejaran atau sekedar bercanda-canda dengan beberapa temannya sering menimbulkan gangguan bagi orang lain terlebih bagi dirinya sendiri. Topik-topik ajar terutama untuk materi pelajaran berhitung dan menulis… nampaknya… buku yang dibawanya waktu dia pergi dan pulang kembali ke rumah selalu dalam keadaan sama “Kosong”, kalaupun ada coretan itu tak lebih dari guratan ujung pensilnya yang sudah diserut tajam sehingga guratan yang dibuatnya bisa sampai menembus beberapa halaman bukunya. Intinya… tidak ada materi pelajaran yang ditulis atau angka-angka yang diajarkan gurunya tak satupun yang direkam dibuku tulisnya.
O iya.. kembali lagi, pagi-pagi hampir tiap pagi … umi selalu nanya Sayid… mana pensilnya, mana bukunya, dimana belajarnya, pertanyaan serupa terus berulang – tak ubahnya dengungan suara azan kedua setelah adzhan untuk sholat subuh.
Mi…pensil A’a ketinggalan, Mi… pensil A’a diambil teman, Mi pensil A’a hilang, Mi….pensil A’a dimainkan Hanif (Muhammad Fathurrahman Al-Hanif; anak ketiga kami), begitu suara jawaban yang sering terdengan.
terkadang sampai pada waktu dia harus makin pagi atau segera bersiap-siap untuk ke sekolah, sang pensil nggak nongol-nongol. Ketika hendak berangkat ke sekolah (dia harus jalan kaki dan tanpa diantar ke sekolah – kami mengajarkan kepada mereka untuk mandiri, sementara teman-temannya masih ditemani orang tua mereka bahkan sampai ke dalam kelas) sekira pensil itu tidak ditemukannya, maka dia harus menghadapi kenyataan…. kesekolah tanpa membawa sebatang pensilpun. Ada solusi sebenarnya, dia harus belajar menyampaikan permasalahannya kepada orang lain, di sekolah guru adalah pengganti orang tuanya, guru adalah orang lain yang saya maksud,…. dia bisa pinjam alat tulis dari gurunya atau dari teman tentu setelah dia menceritakan masalahnya kepada sang guru tadi. Beberapa kali kejadian serupa berlangsung …. walaupun hasilnya masih relatif sama… Sayid pulang ke rumah dengan buku yang masih bersih atau kalau tidak bersih-bersih amat beberapa lembar bukunya tampak berlobang kecil-kecil. (tertusuk pensil atau mungkin benda tajam lainnya)..
Sayid… pesan abi … tahun ini kan kamu pengen masuk ke SD….nanti kalau sudah di SD – Sayid pasti diberi banyak PR oleh Ibu/Bapak gurunya, kalau Sayid kurang rajin latihan menulis –nanti Sayid nggak bisa menyelesaikan Pekerjaan Rumahnya … dan satu lagi kalau di SD nanti Sayid tidak bisa lagi melakukan tawar menawar untuk pekerjaan yang harus diselesaikan di sekolah maka pekerjaan itu harus selesai di sana–tidak bisa diminta untuk dikerjakan dirumah seperti kebiasaan A’a di TK.

A’a Kapan-kapan kita ke Dokter gigi ya?
Oya membacanya juga harus lebih rajin agar A’a bisa mengikuti pelajaran lebih mudah nanti kalu sudah di SD.