HANIF DIBAWA OPUNG … ALEEYA
Dua hari lalu, Rabu, 7 Mei …. Kami agak sibuk … pagi-pagi gak rush…. umi siap-siap untuk ngajar abang dan A’a siap-siap ke sekolah, A’a masuk jam 8, abang agak sedikit siang jam 9.30, Umi ada kelas jam 9.
Wah … rabu adalah hari paling ramai … pagi hari yang gaduh, … bala bantuan datang tepat sekitar jam 7.30, nin dan opung datang suasana agak terkendali, anak-anak sudah dipersiapkan – mereka sudah makan pagi tinggal mandi dan mengenakan seragam. Hanif putra ketiga kami … belum sekolah umur 3 menjelang 4 tahun, biasanya dia punya kesibukan sendiri, kalau nggak nonton dora atau siapa sih nama si petualang tapi versi laki-lakinya … O ya Diego … biasanya pagi-pagi bangat dia sudah nonton. Tontonan tersebut sengaja kami berikan untuk melatih kemampuan berbahasanya, nampaknya cukup efektif juga, ada banyak kosa kata yang dia rekam dan diulang-ulang persis tontonannya. Nah… kalau nggak nonton kadang dia cari perhatian … minta ini itu … cuci tangan ke kamar mandi, pipis dan minta dipakaikan celananya kembali hanya oleh umi tidak oleh abang, a’a … mereka kadang cukup kooperatif mau membantu uminya dalam beberapa hal, walau masih harus menggunakan pengeras suara agar permintaan bantuan itu sedikit mendapat perhatian.
Abi dan Aleeya, kami masih dikamar menghabiskan gelap tersisa, gorden jendela kamar belum dibuka … jadi suasana terasa seperti masih malam saja, padahal kalau dibuka … sinar mentari bisa masuk langsung menembus kaca cendela kamar tanpa sungkan.
Suasana rumah seperti ini, seolah ritual - dan kejadian-kejadian serupa ini akan menjadi kenangan bagi kami bersama dibeberapa tahun ke depan. Waktu itu tak lama lagi.
Biasanya – ketika Abang dan A’a berangkat ke sekolah mereka – yang dirumah tersisa Aleeya dan Hanif saja. Suasana agak berbeda, agak sepi – tanpa ada teriakan-teriakan panjang abi atau umi sekedar mengingatkan anak-anak tentang apa yang menjadi tanggungjawab mereka, memberitahu, mengajarkan, mengingatkan dan mengingatkan kembali adalah kewajiban abi- umi.
Tepat pada rabu itu, ketika pulang malamnya umi laporan, Hanif dibawa Opung, pantesan tempat tidur anak-anak agak lowong – biasanya ditempat tidur anak-anak mereka (Abang, A’a dan Hanif) numpuk kaki dan kepala kadang saling beradu, pemandangan luar biasa.
Esok paginya, kamis, suasana agak berbeda … terutama setelah Abang dan A’a ke sekolah, Aleeya jadi kesepian … tidak ada Hanif yang main bareng … sedikit sepi … Hanif pulang ya … umi, abi, abang, a’a dan aleeya udah kangen. ditunggu ya dirumah.



1 response so far ↓
badai123 // May 12, 2008 at 5:06 am |
Mr.Manto this is my blogs : badaikehidupan.blogspot.com
You must be logged in to post a comment.